Ketika iman bersemi dalam hati sesuai tuntunan syariat, niscaya hati ini rindu terbang ke jannah dan takut siksa neraka

Selasa, 14 Agustus 2012

Iman Bertambah dan Berkurang


Iman bagi seorang hamba mempunyai kedudukan tinggi dan luhur. Dia adalah kewajiban yang paling wajib dan kepentingan yang paling penting. Setiap kebaikan dunia dan akhirat tergantung pada kebaikan dan keselamatan iman. Betapa banyak faidah melimpah, buah-buahan yang beraneka ragam, panen yang lezat dan makanan yang tak kunjung habis serta
kebaikan yang terus mengalir karena keimanan. Dari sini kaum Muslimin berlomba-lomba untuk menjaga, memurnikan dan menyempurnakan imannya. Seorang Muslim yang diberi taufiq oleh Allah seharusnya menomorsatukan penjagaannya terhadap keimanan di atas segalanya dalam rangka mencontoh Salafus Shalih Radliyallahu ‘Anhum Ajma’in. Para Salaf selalu bersungguh-sungguh menjaga keimanan mereka, memeriksa amal mereka dan saling berwasiat di antara mereka. Atsar-atsar mereka yang demikian sangat banyak di antaranya:
1.        Atsar dari Umar bin Al Khaththab Radliyallahu ‘Anhu. Beliau berkata kepada para shahabatnya: “Marilah kemari, kita menambah keimanan.”

2.      Atsar dari Abdullah bin Mas’ud Radliyallahu ‘Anhu.

Beliau berkata: “Duduklah bersama kami, kita menambah keimanan.” Beliau juga biasa mengatakan dalam doanya: “Ya Allah, tambahlah iman, keyakinan dan kepahamanku.”

3. Mu’adz bin Jabal Radliyallahu ‘Anhu berkata: “Duduklah bersama kami, kita beriman sejenak.”

4. Abdullah bin Rawahah Radliyallahu ‘Anhu pernah mengambil tangan sekelompok shahabatnya sambil berkata: “Marilah kemari menambah iman sejenak, marilah berdzikir kepada Allah dan menambah keimanan dengan taat kepada-Nya. Semoga Dia mengingat kita dengan membawa ampunan-Nya.”

5.
           

Abu Darda’ Radliyallahu ‘Anhu berkata: “Termasuk dari kepahaman agama seorang hamba adalah dia mengetahui apakah imannya bertambah atau berkurang dan dia mengetahui bisikan-bisikan setan dari mana saja ia datang.”
6.         Umair bin Hubaib Al Khithami Radliyallahu ‘Anhu berkata: “Iman itu bertambah dan berkurang.”

Dia ditanya: “Apa yang menyebabkan bertambah dan berkurangnya?” Dia menjawab: “Apabila kita berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, memuji-Nya dan bertasbih kepada-Nya maka itulah bertambahnya iman. Dan apabila kita lalai, menyia-nyiakan dan melupakan-Nya maka itulah berkurangnya iman.”

7.
           

Alqamah bin Qais An Nakha’i Rahimahullah (salah seorang tokoh ulama tabi’in) berkata kepada para sahabatnya: “Marilah berjalan bersama kami menambah keimanan.”

8.
           

Abdurrahman bin Amr Al Auza’i Rahimahullah pernah ditanya tentang keimanan apakah bisa bertambah?

Beliau menjawab: “Betul (bertambah) sampai seperti gunung.” Beliau ditanya lagi: “Apakah bisa berkurang?” Beliau menjawab: “Ya, sampai tidak tersisa sedikit pun.”
9.         Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hanbal Rahimahullah pernah ditanya tentang keimanan apakah bisa bertambah dan berkurang beliau menjawab: “Iman bertambah sampai puncak langit yang tujuh dan berkurang sampai kerak bumi yang tujuh.” Beliau juga berkata: “Iman itu ucapan dan amalan, bertambah dan berkurang. Apabila engkau mengamalkan kebajikan maka ia bertambah dan apabila engkau menyia-nyiakannya maka ia pun akan berkurang.”

Atsar-atsar dan pernyataan mereka sangat banyak. Kalau kita memperhatikan sejarah hidup mereka dan membaca kabar tentang mereka kita akan mengetahui begitu besar perhatian mereka terhadap keimanan.

Telah diketahui dari mereka bahwa iman itu dapat bertambah dan berkurang. Bertambah dengan menjalankan sebab yang membuat kuatnya iman. Oleh karena itu sangat penting bagi setiap Muslim untuk mengetahui sebab-sebab yang menjadikan keimanan bertambah dan berkurang atau yang menguatkan dan melemahkan (membatalkannya), Al Alamah Abdul Rahman Ibnu Sa’di mengatakan:

Seorang Mukmin yang diberi taufiq oleh Allah, dia senantiasa berusaha melakukan dua hal yaitu:

Pertama, memurnikan keimanan dan cabang-cabangnya dengan cara mengilmui dan mengamalkannya.

Kedua, berusaha untuk menolak atau membentengi diri dari bentuk-bentuk ujian yang tampak maupun tersembunyi yang dapat menafikan (menghilangkan)nya dan membatalkannya atau mengikisnya. (At Taudlih wal Bayan Lisyajaratil Iman halaman 38)

Dari sini saya akan menukilkan beberapa keterangan para ulama tentang sebab-sebab bertambah dan berkurangnya iman. Di antara sebab bertambahnya adalah mempelajari ilmu yang bermanfaat berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ibnu Rajab mendefinisikan ilmu sebagai berikut: “Ilmu yang bermanfaat adalah mempelajari dengan seksama isi Al Kitab dan As Sunnah serta makna-maknanya berdasarkan atsar shahabat dari tabi’in serta tabi’ut tabi’in di dalam memahami keduanya serta ucapan mereka dalam permasalahan halal, haram, kezuhudan, permasalahan hati, ilmu pengetahuan dan lain-lain.” (Fadlu Ilmis Salaf ‘alal Khalaf halaman 45)

Sebab yang paling besar dalam bertambahnya iman perhatikanlah nash-nash dari Al Quran dan Al Hadits berikut ini.

Allah berfirman:

“Allah menyaksikan bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Menegakkan Keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga mengatakan yang demikian itu). Tidak ada ilah yang berhak untuk disembah melainkan Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran : 18)

Juga firman Allah:

“Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang Mukmin mereka beriman dengan apa-apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Quran) dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan pahala yang besar.” (QS. An Nisa : 162)

Serta firman-Nya:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS. Fathir : 28)

Serta ayat lain yang semakna. Adapun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah dengan kebaikan maka Allah akan menfaqihkannya dalam perkara agama.” (HR. Bukhari 1/164, 6/217, 12/293 dan Muslim 3/1524)

Juga sabdanya:

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Dan sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka kepada pencari ilmu karena ridha dengan apa yang dia perbuat. Sesungguhnya seorang yang alim akan dimintakan ampunan baginya oleh semua yang ada di langit dan bumi sampai ikan hiu di dalam air. Sesungguhnya keutamaan orang alim atas seorang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan di malam purnama atas segala bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi dan para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya maka berarti dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Imam Ahmad 5/196, Abu Daud 3/317, Tirmidzi 5/49, Ibnu Majah 1/81, Ad Darimi 1/98, Ibnu Hibban 1/152 dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahihul Jami’ 5/302)

Serta sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla, para malaikat-Nya serta penduduk langit dan bumi sampai semut yang ada di lubangnya dan ikan hiu semua mengucapkan shalawat atas seorang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi 5/50 dishahihkan oleh Syaikh Al Albani di dalam Shahih Tirmidzi 2/343)

Nash-nash di atas menerangkan kedudukan dan keagungan serta pentingnya ilmu dan akibat atau pengaruhnya di dunia dan di akhirat berupa ketundukan dan keterikatan pada syariat Allah serta merealisasikannya. Maka seorang alim yang mengenal Rabbnya, nabinya, perintah dan batasan-batasan hukum Allah dapat membedakan perkara-perkara yang dicintai dan diridlai Allah dengan perkara-perkara yang dibenci-Nya. Inilah ilmu yang bermanfaat.

Bertambahnya iman yang dihasilkan dari sisi ilmu terjadi dari beberapa segi di antaranya adalah keluarnya si penuntut ilmu untuk mencari ilmu, duduknya di majlis-majlis dzikir, berdiskusi dalam permasalahan ilmu, bertambahnya pengenalan mereka kepada Allah dan syariat-syariat-Nya, aplikasinya tentang apa yang dipelajari kemudian dia ajarkan yang dengan ini dia mendapatkan pahala dan sebagainya.

Adapun dalam bagian-bagian ilmu syar’i yang bisa menyebabkan bertambahnya ilmu adalah:
1.         Membaca dan tadabbur Al Quran Al Karim.

Hal ini termasuk ilmu yang paling agung yang menyebabkan bertambah dan tetap serta kuatnya keimanan. Allah telah menurunkan Kitab-Nya sebagai penerang bagi hamba-hamba-Nya, sebagai petunjuk, rahmat, cahaya, kabar gembira dan peringatan bagi orang-orang yang ingat.

Banyak sekali nash-nash yang menerangkan tentang perkara ini di antaranya Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami. Menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al A’raf : 52)

Juga pada surat Al An’am 92 dan 155, An Nahl 89, Shad 29, Al Isra 9 dan 82, Qaf 37 dan lain-lain.

Ayat-ayat ini menerangkan keutamaan Al Quran Al Karim. Orang yang membaca, mentadaburi dan memperhatikannya akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang menjadikan imannya kuat dan bertambah. Allah mengabarkan tentang orang-orang Mukminin yang berbuat demikian.

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka dan kepada Rabblah mereka bertawakkal.” (QS. Al Anfal : 2)

Imam Al Ajurri Rahimahullah berkata:

Barangsiapa yang tadabur (memperhatikan) Al Quran, dia akan mengenal Rabbnya Azza wa Jalla dan mengetahui keagungan, kekuasaan dan qudrah-Nya serta ibadah yang diwajibkan atasnya. Maka dia senantiasa melakukan setiap kewajiban dan menjauhi dari segala sesuatu yang tidak disukai maulanya (yaitu Allah).

Ayat-ayat di atas adalah dalil yang sangat jelas dalam menerangkan pentingnya Al Quran dan pentingnya memperhatikan dan penjagaan kepadanya serta kuatnya pengaruh terhadap hati. Inilah yang paling tinggi kedudukannya dan menyebabkan bertambahnya iman.

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata:

Kesimpulannya adalah tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati daripada membaca Al Quran dengan tadabur dan tafakur.
2.         Mengenal Asmaul Husna dan sifat Allah yang terdapat dalam Al Quran dan As Sunnah yang menunjukkan kesempurnaan Allah secara mutlak dari berbagai segi.

Apabila seseorang hamba mengenal Rabbnya dengan pengetahuan yang hakiki kemudian selamat dari jalan orang-orang yang menyimpang tentang pengenalan terhadap Allah yang dibangun di atas tahrif, ta’thil, takyif atau tasybih terhadap asma dan sifat-sifat Allah, sungguh dia telah diberi taufik dalam mendapatkan tambahan iman. Karena seorang hamba apabila mengenal Allah dengan jalan yang benar dia termasuk orang yang paling kuat imannya dan ketaatannya, takutnya dan muraqabah-nya kepada Allah Ta’ala. Allah berfirman:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari para hamba-Nya adalah ulama.” (QS. Fathir : 28)

Ibnu Katsir mengatakan:

Sesungguhnya hamba yang benar-benar takut kepada Allah adalah ulama yang mengenal Allah. (Ibnu Katsir 3/553. Ahmad bin Ashim Al Anthadi berkata: “Barangsiapa yang lebih mengenal Allah maka dia lebih takut kepada-Nya.” [Ar Risalah Al Qusyairi halaman 141])
3.         Memperhatikan sirah/perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Termasuk dari sebab bertambahnya iman adalah mengamati dan memperhatikan serta mempelajari sirah nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sifat-sifat beliau yang baik serta perangainya yang mulia. Dialah pilihan Allah di kalangan para makhluk-Nya, yang dipercaya untuk wahyu-Nya, yang diutus dengan agama yang kokoh dan manhaj yang lurus. Allah mengutus beliau sebagai rahmat bagi seluruh alam dan sebagai imam serta hujah atas hamba-hamba-Nya.

Ibnul Qayyim berkata:

Dari sini kamu mengetahui sangat pentingnya hamba untuk mengenal Rasul dan apa yang dibawanya dan membenarkan pada apa yang beliau kabarkan serta mentaati apa yang beliau perintahkan karena tidak ada jalan kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan tidak pula di akhirat kecuali dengannya (tuntunan Rasul). Tidak ada jalan untuk mengetahui baik dan jelek secara mendetail kecuali darinya. Maka kalau seseorang memperhatikan sifat dan akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam Al Quran dan hadits, dia akan mendapatkan manfaat dengannya yaitu ketaatan dia kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi kuat dan bertambah cintanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah tanda bertambahnya keimanan yang mewariskan mutaba’ah dan amalan shalih.
4.         Mempraktikkan kebaikan-kebaikan agama Islam.

Sesungguhnya ajaran Islam semuanya baik, paling benar aqidahnya, paling terpuji akhlaknya, paling adil hukum-hukumnya. Dari pandangan yang mulia ini, Allah menghiasi keimanan di hati seorang hamba dan membuatnya cinta kepada iman. Sebagaimana Allah memenuhi cintanya kepada pilihan-Nya dari kalangan makhluk-Nya yakni Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan firman-Nya:

“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah dalam hatimu.” (QS. Al Hujurat : 7)

Maka iman di hati seorang hamba adalah sesuatu yang sangat dicintai dan yang paling indah. Oleh karena itu seorang hamba akan merasakan manisnya iman yang ada di hatinya sehingga dia akan menghiasi hatinya dengan pokok-pokok dan hakikat-hakikat keimanan dan menghiasi anggota badannya dengan amal-amal nyata. (Lihat At Taudlih wal Bayan halaman 32-33)

Apabila kita memperhatikan kebaikan-kebaikan yang terdapat dalam agama ini berupa perintah-perintah dan larangan-larangan, syariat dan hukum-hukum akhlak dan adab-adab yang menjadi sebab bagi orang tidak beriman semakin menjauh dan sebagai bahan tambahan (iman) bagi orang yang beriman. Bahkan barangsiapa yang kuat perhatiannya kepada kebaikan-kebaikan agama ini kakinya akan semakin kokoh di dalam mengenal kebaikan serta kesempurnaannya. Begitu pula jika ia memperhatikan kejelekan-kejelekan akibat karena menentang agama maka dia akan termasuk orang yang paling kuat dan kokoh imannya.

Oleh karena itu Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata:

Orang-orang yang khusus dan berakal tatkala akal mereka menyaksikan kebaikan, kemuliaan dan kesempurnaan agama ini dan menyaksikan kejelekan dan kerendahan sesuatu yang menentangnya (agama) jika bercampur dengan keimanan, kecintaan dan kejernihan hati maka kalau pun dia disuruh memilih antara dimasukkan ke neraka dengan memilih selain agama ini (Islam) serta dia lebih memilih untuk dimasukkan ke api atau dipotong-potong anggota badannya dan tidak memilih agama lain. Contoh ini adalah manusia yang kaki-kaki mereka kokoh dalam keimanan, paling jauh kemungkinan untuk murtad darinya dan yang paling berhak untuk tetap atasnya sampai hari bertemu Allah. (Miftahud Daris Sa’adah halaman 340-341)

Ucapan beliau itu didukung oleh hadits Anas bin Malik Radliyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

“Tiga perkara yang barangsiapa ada padanya dia akan mendapatkan manisnya iman. Yaitu jika Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, jika ia mencintai seseorang tidaklah mencintainya kecuali karena Allah dan jika dia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke neraka.” (HR. Bukhari 1/60 dan Muslim 1/66)

Al Walid hafidlahullah menyebutkan beberapa faidah dari hadits itu di antaranya hadits tersebut menunjukkan perbedaan tingkatan keimanan dan bahwa iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Barangsiapa memiliki tiga perangai itu maka dia akan mendapatkan manisnya iman berbeda dengan lainnya. (Isyruna Haditsan min Shahih Bukhari halaman 167)
5.         Membaca sirah Salaf umat ini.

Salaf umat ini yaitu para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik adalah generasi pertama dalam Islam, sebaik-baik generasi, penjaga Islam, pembimbing para makhluk, orang-orang yang menyaksikan kejadian-kejadian yang agung, pembawa-pembawa agama ini dan penyampai risalah kepada zaman sesudah mereka, manusia yang paling kuat imannya dan kokoh ilmu di kalangan manusia, yang paling baik hatinya dan paling suci jiwa-jiwa mereka. Mereka diberi kekhususan oleh Allah dengan melihat nabinya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mendengar langsung suara dan ucapan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mengambil agama dari beliau sehingga jiwa mereka kokoh.

Keutamaan mereka disebutkan dalam firman Allah:

“Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan bagi manusia.” (QS. Ali Imran : 110)

Yang maknanya adalah mereka adalah sebaik-baik umat dan yang paling bermanfaat bagi manusia.

Dan sabda Rasulullah:

“Sebaik-baik umatku adalah generasi saat aku diutus kemudian orang yang sesudahnya ….” (HR. Muslim 4/1964)

Barangsiapa memperhatikan dan membaca perjalanan hidup mereka akan mengetahui kebaikan-kebaikan mereka, akhlak-akhlak yang agung, ittiba’ mereka kepada Allah, perhatian mereka terhadap iman, rasa takut mereka dari dosa, kemaksiatan, riya’ dan nifaq, ketaatan mereka dan bersegera dalam kebaikan, kekuatan iman mereka dan kuatnya ibadah mereka kepada Allah dan sebagainya. Dengan memperhatikan keadaan mereka maka iman menjadi kuat dan timbul keinginan untuk menyerupai mereka dalam segala hal sebagaimana ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Barangsiapa lebih serupa dengan mereka (shahabat) maka dia lebih sempurna imannya (Al Ubudiyah halaman 94) dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.”

Sebab-Sebab Berkurangnya Iman

Kita mengetahui sebab-sebab berkurangnya iman sebagai tameng dan kehati-hatian kita agar tidak terjatuh ke dalamnya. Sebagaimana ucapan Hudzaifah Ibnul Yaman Radliyallahu ‘Anhu:

“Para shahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kebaikan sedangkan aku bertanya tentang kejelekan karena aku takut kejelekan itu mengenaiku.” (Al Bukhari 7/93 dan Muslim 3/1975)

Ibnul Jauzi berkata: “Mengetahui kejelekan adalah agar berhati-hati dari terjatuh padanya.” (Talbis Iblis halaman 4 dan Al Fatawa Ibnu Taimiyah 10/301)

Serta ucapan seorang penyair:

Aku mengetahui kejelekan bukan untuk melakukannya

Akan tetapi untuk menghindarinya

Barangsiapa yang tidak mengenal kejelekan dikawatirkan dia akan terjerumus padanya

Sebab-sebab berkurangnya iman terbagi menjadi dua bagian dan setiap bagian terbagi lagi dalam beberapa bagian.

Bagian pertama, sebab-sebab dari dalam berupa:


a.         Kobodohan sebagai lawan dari ilmu.

Sebagaimana ilmu menjadi sebab bertambahnya iman maka kebodohan juga menjadi sebab berkurangnya iman. Terjadinya perbuatan dosa dan kemaksiatan sering disebabkan karena kebodohan. Allah berfirman menceritakan kebodohan kaum Musa Alaihis Salam:

Mereka (kaum Musa) berkata: “Wahai Musa, buatkan bagi kami tuhan-tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.” Musa berkata: “Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bodoh.” (QS. Al A’raf : 138)

Juga banyak ayat lain yang menerangkan tentang yang demikian.

Oleh karena itu Imam At Thabari menyebutkan di dalam Tafsir-nya riwayat dari Abu Aliyah bahwa beliau berkata: “Setiap dosa yang dilakukan seseorang hamba adalah karena kebodohannya.”

Qatadah berkata: “Para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersepakat berpendapat bahwa setiap perbuatan maksiat terhadap Allah adalah karena kebodohan, baik secara sengaja atau tidak.”

Mujahid berkata: “Setiap orang yang bermaksiat kepada Allah maka hal itu karena kebodohannya sampai dia mau bertaubat.”

As Suddi berkata: “Selama seorang hamba bermaksiat kepada Allah maka dia adalah orang yang bodoh.”

Ibnu Zaid mengatakan: “Setiap seorang berbuat suatu maksiat kepada Allah maka dia bodoh sampai dia berlepas diri darinya.” (Lihat atsar-atsar ini di dalam Tafsir At Thabari 3/229, 5/209, Tafsir Al Baghawi 1/407, Al Fatawa 7/22, Tafsir Ibnu Katsir 1/463)

Maka kebodohan dan rusaknya ilmu adalah sebab pokok rusaknya amal dan berkurangnya iman.
b.         Lalai, berpaling dan lupa.

Tiga perkara ini merupakan sebab yang besar di antara sebab-sebab berkurangnya iman. Barangsiapa yang diliputi oleh kelalaian dari taat kepada Allah dan disibukkan oleh lupa kepada Allah maka muncullah dari dirinya penentangan sehingga akan kurang dan lemah imannya yang akhirnya hatinya menjadi sakit dan mati dan dia akan dikuasai oleh syahwat dan syubhat.

Allah mensifati orang yang menentang sebagai orang yang paling zhalim dan termasuk orang-orang yang berdosa dengan firman-Nya:

“Dan siapakah yang lebih dhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya kemudian ia berpaling darinya? Sesungguhnya Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS. As Sajdah : 22)

Allah juga mengabarkan bahwa Dia menutup hati orang-orang yang menentang sehingga mereka tidak mendapat petunjuk dengan firman-Nya:

“Dan siapakah yang lebih dhalim daripada orang-orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Rabbnya lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahami dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka dan kendati pun kamu menyeru mereka kepada petunjuk niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (QS. Al Kahfi : 57)

Allah juga menerangkan bahwa penentangan terhadap-Nya menyebabkan kehidupan yang sempit di dunia dan di akhirat sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha : 124)

Demikian pula mereka di hari kiamat nanti akan membawa dosa dan mendapat adzab. Sebagimana firman-Nya:

“Barangsiapa berpaling dari Al Quran maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar pada hari kiamat.” (QS. Thaha : 100)

Dan firman-Nya yang lain:

“Barangsiapa berpaling dari peringatan Rabbnya akan dimasukkan ke dalam adzab yang besar.” (QS. Al Jin : 18)

Masih banyak lagi ayat-ayat yang mengabarkan tentang bahayanya berpaling dari ayat-ayat atau peringatan Allah. Bahaya yang paling besar adalah hilangnya keimanan bagi yang menentang, menjadikan lemahnya iman orang yang beriman sesuai dengan penolakan seorang hamba tadi.
c.         Melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa.

Sebagian besar Salaf menyatakan bahwa iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Sebagaimana suatu perbuatan yang diperintahkan oleh Allah berupa kewajiban dan sunnah dapat menambah iman begitu juga melakukan sesuatu yang dilarang dari bentuk haram dan makruh akan mengurangi iman.

Syaikh Muhammad Al Utsaimin hafidlahullah berkata: “Melakukan kemaksiatan akan menyebabkan iman berkurang sesuai dengan kadar kemaksiatan tersebut dan sikap meremehkannya.”

Berkurangnya iman dengan sebab melakukan dosa-dosa besar akan lebih dratis daripada dengan sebab melakukan dosa-dosa kecil. Berkurangnya iman dengan sebab membunuh jiwa yang diharamkan untuk membunuhnya akan lebih dratis daripada berkurangnya iman dengan sebab mengambil harta orang lain tanpa hak. Berkurangnya keimanan dengan sebab mengerjakan dua maksiat akan lebih dratis daripada dengan satu kemaksiatan dan begitulah seterusnya ….
d.         Nafsu yang selalu menyuruh kepada kejelekan.

Allah menjadikan nafsu amarah bis su’ (nafsu yang selalu menyuruh kepada kejelekan) sebagai tabiat dan pembawaan serta karakternya kecuali nafsu yang diberi taufik, dikuatkan serta ditolong oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan tentang Yusuf Alaihis Salam:

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan. Kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf : 53)

Dan firman Allah:

“Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya.” (QS. An Nur : 21)

Dan firman Allah kepada sebaik-sebaik makhluk-Nya yakni Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu niscaya kamu hampir-hampir condong kepada mereka.” (QS. Al Isra : 74)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mengajari para shahabat beliau khuthbah hajat dengan sabdanya:

“Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, minta pertolongan kepada-Nya dan minta ampunan kepada-Nya. Dan kami minta perlindungan kepada Allah dari kejahatan-kejahatan jiwa (nafsu) kami dan dari kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang Allah beri hidayah maka tidak ada yang menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan-Nya maka tidak ada yang dapat menunjukinya.” (HR. Abu Dawud 2/238, An Nasa’i 3/105)

Di dalam nash-nash ini diterangkan bahwa kejelekan yang terdapat pada jiwa akan mengakibatkan kejelekan amalan kecuali yang diberi taufik dan ditolong oleh Allah niscaya dia akan selamat.

Allah menjadikan nafsu-nafsu ini sebagai lawan nafsu muthma’inah sebagaimana ucapan Ibnul Qayyim Rahimahullah:

Allah menciptakan manusia atas dua nafsu, nafsu amarah bis su’ dan nafsu muthma’inah yang keduanya saling bertentangan. Setiap salah satu ringan maka yang lainnya menjadi berat. Setiap yang satu darinya merasakan kelezatan maka yang lain akan merasa sakit. Bagi nafsu amarah tidak ada yang lebih berat daripada beramal karena Allah dan mengutamakan ridla Allah. (Al Jawabul Kafi halaman 184-185)

Maka tidak ada yang lebih berbahaya atas iman dan agama seseorang daripada nafsu amarahnya yang merupakan sebab yang pokok di dalam lemahnya iman.

Bagian kedua, yaitu sebab-sebab dari luar yang mempengaruhi berkurangnya iman yaitu:
a.         Setan.

Di antara sebab-sebab luar yang mempengaruhi lemahnya iman adalah godaan setan. Setan adalah musuh besar orang-orang Mukmin. Ia senantiasa membuat propaganda kepada mereka dan tidak ada tujuan mereka (setan) kecuali mencabik-cabik, melemahkan dan merusakkan iman di hati orang-orang Mukmin. Barangsiapa menyerah kepada bisikan setan dan tidak berlindung kepada Allah darinya maka imannya akan lemah dan berkurang bahkan akan hilang darinya. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan kaum Mukminin dari bahaya-bahaya setan dan akibat-akibat mengikutinya. Allah berfirman:

“Wahai orang-orang beriman, janganlah engkau mengikuti langkah-langkah setan dan barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan maka sesungguhnya dia menyuruh kepada (perkara) yang keji dan munkar ….” (QS. An Nur : 21)

Dan Allah berfirman juga:

“Sesungguhnya setan itu musuh bagimu. Maka jadikanlah dia musuh(mu) karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir : 6)
b.         Dunia dan fitnahnya.

Di antara sebab-sebab berkurang dan lemahnya iman hamba adalah sibuk dengan tujuan-tujuan hidup di dunia yang fana. Waktu-waktunya dipenuhi dengan mencarinya, berjalan terus di bawah naungan kelezatan, fitnah dan hal-hal yang menipu. Tatkala kecintaan hamba dan keterkaitannya kepada dunia membesar maka ketaatannya akan melemah dan iman akan berkurang.

Oleh karena itu Allah Ta’ala mencela dunia di dalam Kitab-Nya dan menerangkan kerendahannya di banyak ayat-ayat-Nya di antaranya:

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah di antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak seperti hujan yang tanam-tanamannya menakjubkan para petani kemudian tanaman-tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridlaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadid : 20)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Akan tetapi aku takut dibentangkan dunia atas kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian kemudian kalian berlomba-lomba (untuk dunia) sebagaimana mereka berlomba-lomba sehingga dunia membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan mereka.” (HR. Bukhari 6/258, 7/320 dan Muslim 4/2274)
c.         Teman-teman yang jelek.

Teman-teman yang jelek sangat membahayakan keimanan, perbuatan dan akhlak seseorang. Bercampur dan bershahabat dengan mereka merupakan sebab yang besar di antara sebab-sebab berkurang dan lemahnya iman. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Seseorang di atas Dien (kebiasaan) kekasihnya. Maka lihatlah orang yang dia kasihi (temani).” (HR. Abu Dawud 13/179, At Tirmidzi 4/589, Ahmad 2/303, Al Hakim 4/171 dan Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 13/70, hadits hasan)

Mengomentari hadits ini Ibnu Abdil Barr berkata:

Makna hadits ini --Wallahu A’lam-- adalah bahwa seseorang terbiasa dengan sesuatu yang dia lihat dari perbuatan-perbuatan orang yang diakrabinya. Oleh karena itu beliau (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) memerintahkan agar tidak bershahabat kecuali dengan orang yang dipandang memiliki kebaikan karena kebaikan itu adalah kebiasaan.

Abu Sulaiman Al Khitabi berkata:

Makna hadits ini adalah jangan kamu bersahabat kecuali dengan orang yang kamu ridlai agama dan amanahnya. Maka jika kamu bersahabat dengannya dia akan menuntun kepada agama dan madzhabnya.

Nukilan-nukilan ini membuktikan kepada kita bahwa seseorang bersama yang ditemani dan yang dia sahabati. Oleh karena itu teman dan shahabat sangat mempengaruhi lemah kuatnya iman, madzhab, akhlak dan perangai seseorang. Kalau seseorang bercampur dengan orang-orang yang fasik dan jelek maka hal ini adalah sebab yang besar dalam lemah dan berkurangnya iman bahkan kadang-kadang sampai menghancurkannya.

Dari pembahasan di atas setelah kita mengetahui sebab-sebabnya bertambah dan berkurangnya iman maka marilah kita selalu berusaha untuk melaksanakan sebab-sebab yang dapat menguatkan keimanan dan menghindari sebab yang dapat melemahkan dan menguranginya. Allah-lah tempat kita minta taufik dan ketetapan di atas Al Haq. Wallahu A’lam.

Dinukil dan disusun kembali dari Kitab Asbabu Ziyadatil Iman wa Nuqshanihi karya Abdurrazaq bin Abdil Muhsin Al Abbad Al Badr.



Oleh: Zuhair bin Syarif

Sumber: Maktabah As Sunnah

http://assunnah.cjb.net/


1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar