Ketika iman bersemi dalam hati sesuai tuntunan syariat, niscaya hati ini rindu terbang ke jannah dan takut siksa neraka

Jumat, 05 Agustus 2011

Berdoa Setelah Sholat Wajib



عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ ؟ قَالَ : جَوْفَ اللَّيْلِ الْآخِرِ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ.
“Dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu beliau berkata : Ada yang berkata : Wahai Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam, do’a apakah yang paling didengar (mustajabah)?”, beliau menjawab : “(Do’a di) seperdua malam terakhir dan (do’a di) dubur (akhir) sholat-sholat yang diwajibkan”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa`i dalam Sunan Al-Kubro (6/32/9936) dan dalam

‘Amalul Yaum wal Lailah (1/186/108) dan Imam At-Tirmidzy (5/526/3499), serta dikeluarkan pula oleh Imam ‘Abdurrozzaq dalam Al-Mushonnaf (2/424/3948) dengan konteks yang agak panjang, semuanya dari jalan Ibnu Juraij –‘Abdul Malik bin ‘Abdil ‘Aziz- dari ‘Abdurrahman bin Sabith dari Abu Umamah Al-Bahily radhiallahu ‘anhu.
Hadits di atas adalah hadits yang lemah karena adanya keterputusan dalam sanadnya, ‘Abdurrahman bin Sabith tidak mendengar dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu.
Yahya bin Ma’in berkata: “Dia (‘Abdurrahman bin Sabith) tidak mendengar dari Sa’ad bin Abi Waqqosh, tidak pula dari Abu Umamah dan tidak pula dari Jabir”. Lihat Jami’ut Tahshil hal. 222.
Yahya bin Sa’id Al-Qoththon –sebagaimana dalam Nashbur Royah (2/235)- berkata: “Dan ketahuilah bahwa apa yang diriwayatkan oleh ‘Abdurrahman bin Sabith dari Abu Umamah tidaklah bersambung, akan tetapi riwayatnya terputus, dia (‘Abdurrahman bin Sabith) tidak mendengar darinya”.
Adapun tadlis Ibnu Juraij, maka tidak berbahaya, karena dia telah menegaskan bahwa dia mendengar hadits ini dari ‘Abdurrahman bin Sabith dengan perkataannya “mengabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin Sabith” sebagaimana bisa dilihat dalam riwayat ‘Abdurrozzaq di atas.

Catatan :
Ibnu Rajab rahimahullah menyebutkan dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (1/273) bahwa Ibnu Abid Dunya meriwayatkan sebuah hadits dengan lafadz :

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسلَمَّ فَقَالَ : أَيُّ الصَّلاَةِ أَفْضَلُ ؟, قَالَ : جَوْفَ اللَّيْلِ الْأَوْسَطِ, قَالَ : أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ ؟, قَالَ : دُبُرَ الْمَكْتُوْبَاتِ
“Datang seorang lelaki kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam lalu bertanya : “Sholat apakah yang paling utama?”, beliau menjawab : “(Sholat di) tengah malam yang pertengahan”, dia bertanya (lagi) : “Do’a apakah yang paling didengar (mustajabah), beliau menjawab : “Dubur (akhir) (sholat-sholat) yang diwajibkan”.
Dan kami tidak mendapatkan di mana Ibnu Abid Dun-ya meriwayatkan hadits ini sehingga bisa dilacak, apakah hadits ini juga dari Abu Umamah atau dari yang lainnya. Hanya saja ada kaidah yang disebutkan oleh sebagian ulama bahwa jika sebuah hadits diriwayatkan hanya oleh Ibnu Abid Dun-ya saja maka itu adalah hadits yang lemah. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.
  • Sumber: http://al-atsariyyah.com/ensiklopedia-hadits-lemah/berdoa-setelah-shalat-wajib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar