Ketika iman bersemi dalam hati sesuai tuntunan syariat, niscaya hati ini rindu terbang ke jannah dan takut siksa neraka

Senin, 14 April 2014

Sebab Untuk Mendapatkan Rejeki I

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى والدين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له إقرارا به وتوحيدا. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم تسليما مزيدا. أما بعد:
Ikhwani fillah -hafidhokumulloh- kita mendengar saudara-saudara kita kaum muslimin berkata:" Orang yang keadaan seperti ini tidak mungkin akan hidup tenang, bahagia, masa depan pun suram dan tidak mungkin akan hidup maju ." Yaitu orang yang tidak memiliki ijazah sekolah,titel yang tinggi atau pengalaman sekolah (umum). Hal ini menunjukkan lemahnya keimanan dan keyakinan bahwa Allah Maha Memberi rezeki, Dan bahwa rezeki setiap insan telah ditentukan dan ditulis.
 Allah subhanahu wata'ala berfirman:
 ومامن دابة في الأرض إلا علىالله رزقها ويعلم مستقرهاومستودعها كل في كتاب مبين
 “Dan tidak ada makhluk melatapun (bernyawa) di muka bumi melainkan Allahlah yang menjamin rezeki mereka. Dan Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam kitab yang nyata (lauh mahfuzh)” .(Hud: 6)
Allah ta'ala juga berfirman:
 الله يبسط الرزق لمن يشاء من عباده ويقدر له إن الله بكل شيء عليم
“Allah melapangkan rezeki bagi orang yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dia pula yang membatasi baginya. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al 'Ankabut: 62)
Dan Rasulullah bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin mas'ud, tentang fase penciptaan manusia didalam rahim ibunya :
“...kemudian Allah mengutus malaikat dan memerintahkan 4 perkara: untuk menuliskan rezekinya,ajalnya, amalannya, akan bahagia atau sengsara.”
Rezeki setiap insan telah ditentukan dan ditulis. Seseorang tidak akan mati sampai mendapatkan rezeki yang telah ditentukan-Nya. Tinggal kita berusaha untuk mencari dan mengerjakan sebab-sebab yang halal untuk menggapainya.
Akhi fillah, sebab untuk mendapatkan rezeki ada yang dhohir langsung diakui oleh akal dan tidak ada yang mengingkarinya yaitu berprofesi (bekerja). Syariat islam juga menghimbau dan mendorong kita untuk bekerja. Allah Ta'ala berfirman:
فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون
 “Apabila sholat telah dilaksanakan,maka bertebaranlah kamu di muka bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak- banyak agar kamu beruntung.”(Al Jumu'ah: 10)
Berkata Syaikh Abdurrohman As Sa'di:"...bertebaranlah di muka bumi untuk mencari usaha-usaha dan perdagangan."
Rasulullah pernah ditanya, usaha apa yang paling utama? Maka beliau menjawab:" Usaha seseorang yang ia kerjakan sendiri dan perniagaan yang jujur."
Dari sahabat Az Zubair ibnul Awwam bahwa Rasulullah bersabda:"sungguh seorang dari kalian pergi ke gunung dengan membawa seutas tali kemudian pulang membawa seikat kayu bakar dipunggungnya lalu menjualnya sehingga bisa mencegah dirinya (dari minta-minta) lebih baik dari pada minta-minta dikasih atau tidak." (HR. Imam Bukhori)
Dari sahabat Al Miqdam bin ma'dikarib bahwa Rasulullah bersabda:"tidak ada seorangpun yang makan suatu makanan yang lebih baik dari pada makan dari hasil usahanya sendiri, dan Nabi Allah dawud makan dari hasil usahanya sendiri." (HR. Imam Bukhori)
Dan dari sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:"Nabi Zakariya adalah tukang kayu." (HR. Imam Muslim.)
Tapi ingat -akhi fillah- bahwa usaha itu hanya sebagai sebab saja, adapun yang menentukan hasilnya adalah Allah ta'ala. Jangan sampai engkau bergantung dengan sebab (usaha) tanpa meyakini bahwa Allahlah yang menentukannya.
Disana ada sebab-sebab yang kebanyakan orang tidak tahu atau lalai darinya. Apabila seorang hamba melakukan sebab (amalan) tersebut pasti Allah Ta'ala menolong, membantu dan memberi rezeki kepadanya. Sebagaimana Allah Ta'ala sebutkan didalam alqur'an dan juga RasulNya dalam sunnahnya. Kami akan menyebutkan sebagiannya -insya Allah- pada kesempatan yang lain.
نسأل الله السلام و العافية.
 
Dikirim oleh Al-akh Abu Umar Saidan (salah satu thulab di Darul hadist Fuyus,Yaman)
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar