Ketika iman bersemi dalam hati sesuai tuntunan syariat, niscaya hati ini rindu terbang ke jannah dan takut siksa neraka

Rabu, 27 Juli 2011

Tata cara sholat orang sakit


Para ulama sepakat bahwa barangsiapa yang tidak mampu melakukan shalat dengan berdiri hendaknya shalat sambil duduk, dan jika tidak mampu dengan duduk, maka shalat sambil berbaring dengan posisi tubuh miring dan menghadapkan muka ke kiblat. Disunnatkan miring dengan posisi tubuh miring di atas tubuh bagian kanan. Dan jika tidak mampu melaksanakan shalat dengan berbaring miring, maka ia boleh shalat dengan berbaring telentang, sebagaimana sabda Nabi shallallahu `alaihi wasallam kepada `Imran bin Hushain:

Senin, 25 Juli 2011

NASEHAT SYAIKH KHALID BIN DHAHAWI AZH-ZHAFIRI HAFIZHAHULLAH TA’ALA






KALIMAT PENUTUP DAURAH MASYAYIKH, YANG DISAMPAIKAN OLEH SYAIKH KHALID BIN DHAHAWI AZH-ZHAFIRI HAFIZHAHULLAH TA’ALA
20 SYA’BAN 1432 H / 21 JULI 2011 M

Bismillahirrahmanir Rahim
Satu kalimat dipagi hari ini, disebabkan karena tidak lama lagi kami akan melanjutkan perjalanan Insya Allah, maka saya berkata:
Pada hakekatnya, kami berterima kasih kepada kalian atas kesungguhan kalian untuk hadir (dalam daurah ini) dan semangat kalian untuk menuntut ilmu, dan perhatian kalian dan kemuliaan kalian dalam menjamu para tamu. Hal ini sangat jarang kami dapati di negeri- negeri yang lain. Sebagaimana yang telah kami katakan: bahwa tidaklah kami keluar meninggalkan negeri ini melainkan kami selalu merasa rindu untuk kembali lagi kepadanya, disebabkan apa yang kami saksikan dari persaudaraan yang jujur, dan perhatian yang besar kepada ilmu dari para ikhwan disini, dan pada kalian seluruhnya insya Allah.
Maka saya ingin wasiatkan kepada kalian wahai saudara-saudaraku karena Allah, aku nasehatkan untuk diriku dan juga kalian:
Pertama: untuk bertaqwa kepada Allah Ta’ala, dan senantiasa ta’at kepada-Nya, menjauh dari berbagai macam syubhat dan syahwat, menjauh dari jalan syaitan, sebab bertaqwa kepada Allah merupakan keselamatan.
Sebagaimana aku nasehatkan kalian untuk perhatian terhadap ilmu, membaca kitab- kitab, dan bersungguh- sungguh padanya, mendengarkan kaset- kaset dan syrah- syarah dari kitab- kitab para ulama yang telah dikenal, dan tidak mengambil dari siapa saja yang didengar dan dibaca kitab- kitabnya, namun harus engkau mengetahui bahwa orang ini termasuk dari kalangan ahli ilmu yang dipercaya ilmu, manhaj dan juga aqidahnya, sehingga engkau tidak terjerumus kedalam syubhat yang dia sampaikan dalam keadaan kamu tidak merasakannya. Kalian harus menambah perhatian terhadap ilmu dan menuntut ilmu.
Kemudian aku nasehatkan pula kalian untuk bersungguh- sungguh pula dalam mempelajari bahasa Arab, cukup banyak dikalangan para ikhwan yang kami datang setiap tahun namun dia tetap saja berada dalam level yang sama dalam bahasa arab (tidak ada peningkatan,pen), tentu ini merupakan satu kekurangan.
Seorang penuntut ilmu, dia tidak mempelajari dan memperluas ilmunya hingga dia benar- benar menekuni bahasa Arab. Mayoritas kitab-kitab para ulama dan kebanyakannya dengan bahasa ini, Al-qur’an dan as-sunnah juga dengan bahasa ini. Kami tidak mengingkari kesungguhan para ikhwan dalam penerjemahan, dan yang semisalnya, namun ini tidaklah mencukupi dari membaca kitab- kitab yang berbahasa Arab, sebab penerjamahan tersebut tergantung pada pemahaman seorang penerjemah dan kepandaiannya dalam bahasa Arab, dan manusia bertingkat-tingkat dalam perkara ini.
Sebagaimana aku wasiatkan kalian untuk semangat dalam persatuan dan persaudaraan diantara kalian, dan saling menasehati diantara kalian dengan cara lemah lembut dan halus, terkhusus diantara para ikhwah salafiyyin, dan menjauh dari sebab-sebab perselisihan, perpecahan, dan sebab yang menyebabkan kalian lalai dalam berdakwah dan mengalami kemunduran dalam berdakwah. Semua itu penyebabnya adalah perselisihan yang terjadi diantara kita. Jika muncul permusuhan atau perselisihan, hendaknya kedua belah pihak berusaha untuk menyelesaikannya dengan berbagai jalan dan usaha.
فلا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم
“Janganlah kalian berselisih sehingga kalian terkalahkan dan hilang kekuatan kalian.”
Dengan perselisihan menyebabkan hilangnya kekuatan, dan dakwah terbengkalai, dan hilang kekuatan islam dan kaum muslimin.
Sebagaimana Aku wasiatkan kalian untuk berhati-hati dari yayasan- yayasan hizbiyah, sebab mayoritas kepentingan mereka terfokus pada kaum muslimin di luar negeri- negeri Arab, perhatian mereka terfokus disini, Indonesia, India, Pakistan, dan kebanyakan negeri- negeri yang jauh dari negeri- negeri Arab. Mereka mengerahkan kesungguhannya hingga mampu memalingkan manusia kepada hizbiyah mereka dan kepada hawa nafsunya, terkhusus apa yang mereka miliki dari fitnah, yaitu fitnah harta, dimana Yayasan Ihya At-Turats datang dan ingin menarik para pemuda dinegeri ini kedalam hizbiyahnya, dan mereka telah berhasil menarik dan menarik sambil membawa apa yang mereka miliki dari dunia, sehingga dakwah mereka tidak memberikan hasil, dan tidak menghasilkan kecuali kehinaan yang disebabkan terperosoknya kedalam lubang hizbiyah yang bid’ah. Demikian pula pada hari-hari belakangan ini Yayasan Darul Birr juga berusaha masuk ke tengah-tengah para ikhwan kita, namun akhirnya merekapun tersingkap walhamdulillah. Yayasan ini juga merupakan yayasan hizbiyah yang merupakan saudara kandung Ihya At-Turats, yang telah memberi bantuan kepada Abul Hasan Al-Ma’ribi dan mengundangnya ke Emirat Arb untuk mengadakan pengajian- pengajian, maka hendaknya berhati- hati dari hizbiyah dan yayasan ini.
Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullah:
(لا تجعل لصاحب بدعة عليك منة فيميل إليه قلبك )
“jangan engkau menjadikan ahli bid’ah berbuat baik kepadamu sehingga hatimu condong kepadanya.”
Ahli bid’ah jika datang kepadamu, memberikan sesuatu kepadamu, dan berbuat baik kepadamu dengan satu hal, dan memberikan kepadamu harta, pada awalnya mereka berkata: kami tidak menginginkan sesuatu kepadamu, dan kami tidak memberi persyaratan, kami hanya ingin membantumu saja. Namun sedikit demi sedikit hingga akhirnya mereka mampu menarikmu dan menarik dakwahmu, sehingga kamupun membela mereka. Hal ini merupakan hal yang disaksikan dan kenyataan yang terjadi pada kebanyakan mereka.
Engkau mengajar dan belajar dibawah pohon leih baik bagimu daripada binasa bersama hizbiyah – hizbiyah dan yayasan yang binasa ini, engkau tidak akan dapat menghasilkan ilmu, agama dan juga sunnah. Maka sepantasnya seseorang berhati- hati dari hizbiyah ini dan yang lainnya.
Inilah wasiat antuk diri saya pribadi dan juga untuk kalian, saya berharap kalian dapat menerimanya dan menyimaknya. Demikian pula saya ulangi kembali ucapan terima kasih atas kalian dan juga atas semangat kalian. Kami memohon kepada Allah Azza Wajalla agar memberi kami dan juga kalian kekokohan diatas sunnah, dan mematikan kami diatasnya, dan menjadikan penutup hidup kami dengan Laa Ilaaha Illallaaah, dan mewafatkan kami dan kalian dalam keadaan muslim, serta menjauhkan kami dari berbagai fitnah yang jahat baik yang nampak maupun yang tersembunyi berupa syubhat dan syahwat. Kami memohon kepada Allah agar melindungi kami darinya.

Jazakumullah khaeran wabaarakallahu fiikum
Wassalaamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.


Berikut transkrip dalambahasa Arab:
بسم الله الرحمن الرحيم
كلمة في هذا الصباح لأن رحلتنا تكون بعد قليل إن شاء الله فأقول : حقيقة نشكر لكم اجتهادكم في الحضور وحرصكم على طلب العلم واهتمامكم وكرم الضيافة . فهذا قلما نجده في أي بلد من البلدان وكما قلت: ما نخرج من هذا البلد حتى نتشوق إلى القدوم إليها مرة أخرى لما نراه من الأخوة الصادقة والاهتمام بالعلم عند الإخوة هنا وعندكم جميعا إن شاء الله
فأوصيكم إخوتي في لله أوصي نفسي وإياكم :
أولا: بتقوى الله تعالى والاهتمام بالطاعة والبعد عن الشبهات والشهوات والبعد عن سبيل الشيطان فإن تقوى الله هي النجاة
كما أوصيكم بالاهتمام في العلم والقراءة في الكتب والاجتهاد في ذلك وسماع الأشرطة وشروح الكتب من العلماء المعروفين وليس كل من هب ودب يسمع له ويقرأ في كتبه بل لا بد أن تعرف أن هذا الرجل من أهل العلم الموثوق في علمهم ومنهجهم وعقيدتهم حتى لا تهلك بشبهة يلقيها وأنت لا تلقي لها بالا. فلا بد من زيادة الاهتمام في العلم والتعلم. ثم أوصيكم بالاجتهاد أيضا في تعلم اللغة العربيه , كثير من الإخوة نأتي في كل سنة يكون بنفس المستوى في لغته وهذا حقا تقصير.
طالب العلم لم يتعلم ويتوسع في العلم حتى يتقن اللغة العربية , غالب كتب أهل العلم وأكثرها بهذه اللغة, والقرآن والسنة بهذه اللغة, فلا ننكر جهود الإخوة في الترجمة وغير ذلك لكن هذا لا يغني عن القراءة أو قراءة بكتب اللغة العربية , لأن الترجمة ترجع إلى فقه المترجم وإلى فهمه وإلى حسنه للغة . هذا يتفاوت فيه الناس .
كما أوصيكم بالحرص على التآلف والأخوة فيما بينكم ونصح بعضكم بعضا بالرفق واللين,خاصة بين الإخوة السلفيين والبعد عن أسباب الشقاق والفرقة واالأسباب التي تؤدي إلى انتكاس في الدعوة وضعة في الدعوة , كل ذلك يسببه الاختلاف فيما بيننا , فإن حصل عداء أو خلاف يحاول الطرفان في حله بشتى الطرق والسبل فلا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم بالتنازع تذهب الريح وتذهب الدعوة وتذهب قوة الإسلام والمسلمين
كما أوصيكم بالانتباه من الجمعيات الحزبية لأن اهتمامها في الغالب تركز على المسلمين في خارج بلاد العرب, تركزت جهودها هنا في أندونيسيا وفي الهند وفي باكستان وفي كثير من الدول التي تكون بعيدة عن بلاد العرب يبثون جهودهم حتى يستميلون الناس إلى حزبيتهم وإلى الأهواء خاصة بما عندهم من الفتنة وهي فتنة المال فتأتي جمعية إحياء التراث فتريد أن تأخذ الشباب في هذا البلد وقد أخذت وأخذت أن ذهب معها للدنيا فلم تثمر دعوتهم ولم يتحصل منه إلا الخزي بسبب انخراطه في مسلك التحزب والحزبية التي هي بدعة . وكذلك في الأيام الأخيرة حاولت جمعية البر في الدخول على إخواننا ولكنهم انقدحوا والحمد لله هذه الجمعية أيضا جمعية حزبية شقيقة إحياء التراث وهي التي نصر أبا الحسن المأربي وتدعوه تقيم له المحاضرات في الإمارات فينتبه إلى مثل هذه الحزبية والجمعيات. يقول عبد الله بن المبارك رحمه الله:
(لا تجعل لصاحب بدعة عليك منة فيميل إليه قلبك )
صاحب البدعة إذا جاءك وأعطاك وامتن عليك بأمر وأعطاك من المال وهم في البداية يقولون : نحن لا نريد منك شيئا ولا نريد شروطا ونريد أن نساعدك فقط لكن قليلا قليلا حتى يستدرجونك ويستدرجون دعوتك وتكون منهم تدافع عنهم هذا مشاهد وحاصل وهو الواقع في كثير
فلأن تدرس وتدرس تحت كل شجرة خير لك من أن تهلك مع هذه الحزبيات والجمعيات الهالكة , لن تتحصل لا على علم ولا على دين ولا على سنة فينبغي الحذر من هذه الحزبيات وغيرها
هذه وصية لكم لي ولكم أرجو أن تلقى قبولا واستماعا وأعيد الشكر وأكرره لكم وعلى حرصكم , نسأل الله عز وجل أن يثبتنا وإياكم على السنة , وأن يميتنا ويختم لنا بلا إله إلا الله وأن يتوفانا وإياكم مسلمين وأن يجيرنا بشر الفتن ما ظهر منها وما بطن وهو الشبهات والشهوات نسأل الله أن يعيذنا منها
جزاكم الله خيرا وبارك الله فيكم والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
 sumber: http://salafybpp.com/manhaj-salaf/134-nasehat-syaikh-khalid-bin-dhahawi-azh-zhafiri-hafizhahullah-taala.html

Sabtu, 23 Juli 2011

DIMANA ALLAH?

Pada edisi kali ini, kami angkat sebuah topik permasalahyang klasik dan kontemporer, yaitu mengenal Dimana Allah? Karena di sana banyak kita dapatidi antara masyarakat yang menyimpang dalam aqidah (keyakinan) yang agung,prinsip Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan para shahabat -Ridhwanullah‘alaihim ‘ajmain-, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Kita mendapati di antara kaum muslimin di zaman ini, bermacam-macamkeyakinannya atas pertanyaan “Dimana Allah?”.

Jumat, 22 Juli 2011

Bahayanya Perlombaan Keagamaan


Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَشْعَثَ رَأْسُهُ مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ إِنْ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ إِنْ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ
“Binasalah budak dinar, budak dirham, dan budak khamishah (pakaian tebal dari sutra),

Kaifiat Mandi Junub


Para ulama menyebutkan bahwa kaifiat mandi junub ada 2 cara:
1. Cara yang sempurna, yaitu mengerjakan semua rukun, wajib dan sunnah dalam mandi junub.
2. Cara yang mujzi’ (yang mencukupi), yaitu hanya melakukan yang merupakan rukun dalam mandi junub.
(Lihat Al-Mughni: 1/287, Al-Majmu’: 2/209 dan Al-Muhalla: 2/28)
Kaifiat mandi yang mujzi’:

Bolehnya Kencing Berdiri


bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:Dari Abu Hurairah
اتَّقُوا اللَّاعِنَيْنِ قَالُوا وَمَا اللَّاعِنَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ ظِلِّهِمْ
“Takutlah kalian terhadap perihal dua orang yang terlaknat.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah dua orang yang terlaknat itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang buang air di jalanan manusia atau tempat berteduhnya mereka.” (HR. Abu Daud no. 25)

Berikut agenda Majelis Ta'lim As Sunnah Madiun dan Sekitarnya :



1. Masjid Al Fatah Jln. MT.Haryono (depan PLN)

- Fathul Majid syarh Kitab Tauhid. Pemateri :Ust.Suyuthi hafizhahullah
  Waktu : Hari Senin pkl.16.30 WIB

- Kitabut Tauhid Pemateri : Ust.Abdurrahman hafizhahullah
  Waktu :Hari Rabu ba'da Maghrib

2. Masjid Al Hidayah Jln. Kemiri

- Arba'in Nawawiyah. Pemateri : Ust.Abu Salamah hafizhahullah
  Waktu : Hari Kamis ba'da Maghrib, minggu ke-3&4

- Fiqh. Pemateri : Ust. Fauzan Nazil Yaman hafizhahullah
  Waktu : Hari Kamis ba'da Maghrib, minggu ke-1&2

3. Pondok Al Hasanah Jln. Gedong no.4 Banjarejo Madiun (CP : 0351 3321218)

- Setiap hari ba'da Maghrib kec.malam Ahad. Materi : Tafsir, adab.Aqidah,fiqh,siroh,riyadhus sholihin

- Kajian ummahat, setiap hari Selasa (satu jam sebelum zhuhur)

4. Masjid Baitussalam Ds.Tawangrejo, Takeran Magetan (CP : 085735203097 )

- Ushul Iman, Pemateri : Ust.Suyuthi hafizhahullah
  Waktu : Hari Selasa pkl.16:30 WIB

-Umdatul Ahkam dan Tafsir, Pemateri : Ust.Abdurrahman hafizhahullah,
 Waktu : Hari Sabtu ba'da Maghrib

5. Musholla Baitul Makmur RT 13/04, Sirapan,Kec/Kab Madiun

- Arba'in Nawawiyah dan Fiqh Pemateri : Ust.Fauzan Abu Faiz, Waktu : hari Sabtu ba'da Maghrib

6. Pondok As Sunnah Dolopo Kab.Madiun (CP 081335600543)

7. Kajian di sekitar Maospati Magetan ( CP 081335710676 )

8. Kajian di desa Jetis, Dagangan, Kab.Madiun (CP 082142143580)

Rabu, 20 Juli 2011

Pelipur Lara di Tengah Keterasingan


Banyak diantara agama, dan sunnah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-yang dilalaikan orang pada hari ini sehingga terkadang menjadi sesuatu yang mahjur(ditinggalkan) dan ghorib (asing) di mata pemeluknya sendiri.
Inilah yang pernah diisyaratkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-ketika beliau bersabda dalam sebuah hadits,
بَدَأَاْلإِسْلاَمُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ غَرِيْبًا فَطُوْبَىلِلْغُرَبَاءِ
"Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali (asing),sebagaimana ia muncul dalam keadaan asing. Maka beruntunglah orang-orangasing". [HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman (232)]

Adakah Bid’ah Hasanah?– Ucapan ‘Umar bin Khatthab



Pendebat menetapkan adanya bid’ah hasanah dengan dalil, ucapan ‘Umar bin Khatthab radhiyallahu’anhu
نِعْمَ الْبِدْعَة هَذِهِ
Sebaik-baik bid’ah adalah ini (tarawih berjamaah).” (HR. Bukhari)

Dalil ini tidak bisa digunakan sebagai penetapan adanya bid’ah hasanah dikarenakan beberapa alasan:
ALASAN PERTAMA:
Anggaplah kita terima dalalah (pendalilan) ucapan beliau seperti yang mereka maukan – bahwa bid’ah itu ada

Senin, 18 Juli 2011

Pamflet

Live Streaming Kajian Asatidz di ma'had AlAnshor

http://www.salafy.or.id/?page_id=1751

PERUBAHAN JADWAL DAUROH KHUSUS ASATIDZAH

July 11, 2011
Terkait dengan adanya beberapa perubahan teknis, diumumkan kepada asatidzah peserta daurah khusus, bahwa daurah tersebut insya Allah menjadi sbb.:

Waktu             : Sabtu—Kamis, 14—19 Sya’ban 1432 H / 16—21 Juli 2011
Tempat           : Kompleks Ma’had Al-Anshar, Wonosalam, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, DIY
Materi             :
1. Asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri                   : al-Ushul min Ilmil Ushul
2. Asy-Syaikh Khalid azh-Zhafiri             : al-Qaulus Sadid (Syaikh Abdurrahman as-Sa’di)
3. Asy-Syaikh Muhammad Ghalib : Fadhl Ilmi as-Salaf (Ibnu Rajab)

Download Rekaman Dauroh Nasional Ahlus Sunnah wal Jama’ah 2011 di Masjid Agung Manunggal Bantul

klik disini: http://www.salafy.or.id/?page_id=1813

Kamis, 14 Juli 2011

Ikutilah Jalannya Para Shahabat Dan Nasehat Syaikh al-’Utsaimin kepada para pengikut manhaj salafush shalih




Mengapa para shahabat?

Allåh berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ

Kalian adalah umat yang terbaik… (Al-Imraan: 110)

Dijelaskan maknanya oleh Ibnu Abbas, Mujahid, ‘Athiyyah, ‘Ikrimah, ‘Athå dan ar-Rabiy bin Anas:
“Yaitu sebaik-baik manusia bagi manusia lainnya.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Sedangkan Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي
“Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku (yakni para shahabat)…” (HR. Bukhariy)
Jelaslah bahwa para shåhabat merupakan sebaik-baik manusia dan umat terbaik.

Berkata Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaliy:
Jika ditanya :
Ini umum pada umat Islam seluruhnya tidak khusus untuk generasi sahabat saja.

Iqamah (bagian dua)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim)


Menyelai iqamah dan shalat dengan pembicaraan atau perbuatan karena kebutuhan

Al-Imam Al-Bukhari t meriwayatkan dari jalur Humaid, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Tsabit Al-Bunani tentang seseorang yang berbicara setelah diserukan iqamah shalat. Maka ia menyampaikan kepadaku bahwa Anas bin Malik z berkata, ‘Pernah diserukan iqamah shalat, lalu ada seorang lelaki menghadang Nabi n, kemudian ia menahan beliau dari shalat (karena mengajak beliau bicara) setelah diserukan iqamah’.” (HR. Al-Bukhari no. 643)

Iqomah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim)


Hukum Iqamah

Dalam pembahasan adzan terdahulu, kita telah mengetahui bahwa hukum iqamah adalah fardhu kifayah dalam shalat berjamaah. Adapun untuk shalat sendiri, hukumnya mustahab (sunnah), dengan dalil sabda Rasulullah n:

إِذَا كَانَ الرَّجُلُ بِأَرْضٍ قِيٍّ، فَحَانَتِ الصَّلاَةُ فَلْيَتَوَضَّأْ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ مَاءً فَلْيَتَيَمَّمْ، فَإِنْ أَقَامَ صَلَّى مَعَهُ مَلَكَاهُ، وَإِنْ أَذَّنَ وَأَقَامَ صَلَّى خَلْفَهُ مِنْ جُنُوْدِ اللهِ مَا لاَ يُرَى طَرْفاَهُ

“Bila seseorang berada di tanah yang tandus tidak berpenghuni lalu datang waktu shalat, ia pun berwudhu dan bila tidak beroleh air ia bertayammum.

Adzan dan Iqomat (bagian tiga)





(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)





Adzan Dikumandangkan Pada Waktunya


Bila telah masuk waktu shalat, dikumandangkanlah adzan sebagai ajakan untuk menghadiri shalat berjamaah. Namun ada adzan yang diserukan sebelum masuk waktu shalat, yaitu adzan sebelum shalat subuh yang dikenal dengan adzan pertama. Kata Ibnu Hazm t, “Tidak boleh diserukan adzan untuk shalat sebelum masuk waktunya terkecuali shalat subuh saja (adzan pertama, pen.).” (Al-Muhalla, 2/159)

Adzan dan Iqomat (bagian dua)

(ditulis oleh: Al-Ustadz AbuIshaq Muslim Al-Atsari)


Lafadz-lafadz Adzan dan Iqamat

Al-Imam Muhammad bin YahyaAdz-Dzuhli t berkata: “Riwayat yang paling shahih (tentang lafadz-lafadz adzanyang dimimpikan oleh Abdullah bin Zaid z, pen.) adalah riwayat Muhammad binIshaq, yang mendengarkan dari Muhammad bin Ibrahim ibnul Harits At-Taimi, dariMuhammad bin Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi, yang mendengarkan dariayahnya, Abdullah bin Zaid, karena Muhammad telah mendengarkan langsung daribapaknya yakni Abdullah.”

Riwayat ini dikeluarkan oleh Al-ImamAhmad t (3/43), Ashabus Sunan kecuali An-Nasa’i t, dan selainnya. At-Tirmidzi tmenukilkan penshahihan Al-Imam Al-Bukhari t terhadap riwayat ini di dalamAl-Ilal. Dishahihkan pula oleh Ibnu Khuzaimah t, beliau menyatakan hadits inishahih dan pasti dari sisi penukilan, para perawinya bukan orang-orang yangmelakukan tadlis (penyebutan secara samar) dalam periwayatannya. (Ats-Tsamar,1/115)

Dalam hadits tersebut, Abdullah binZaid z berkata: Ketika Rasulullah n memerintahkan untuk menggunakan loncengsebagai tanda bagi orang-orang untuk berkumpul guna mengerjakan shalatberjamaah, ada seseorang mengelilingiku dengan membawa lonceng di tangannyadalam keadaan aku tidur saat itu. Aku berkata, “Wahai hamba Allah, apakahengkau menjual lonceng?”

“Apa yang hendak kau perbuat denganlonceng?” tanyanya.

“Kami ingin memanggil orang-orangberkumpul untuk shalat dengan membunyikan lonceng,” jawabku.

“Maukah aku tunjukkan kepadamu apayang lebih baik daripada itu?” tanyanya.

Aku katakan, “Tentu aku mau.”

Orang itu berkata, ”Engkaumengatakan:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُأَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُاللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَىالصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَىالْفَلاَحِ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

Aku bersaksi bahwa tidak adasesembahan yang benar kecuali Allah. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahanyang benar kecuali Allah.

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalahutusan Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Marilah mengerjakan shalat. Marilahmengerjakan shalat.

Marilah (menuju) kepada kemenangan.Marilah (menuju) kepada kemenangan.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah.1

Kemudian ia mundur dariku ke tempatyang tidak seberapa jauh, setelahnya ia berkata, ”Jika engkau iqamat untukshalat, engkau katakan:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَىالْفَلاَحِ

قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، قَدْقَامَتِ الصَّلاَةُ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Di pagi harinya, aku menemuiRasulullah n untuk mengabarkan mimpiku. Beliau bersabda:

إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٌّ إِنْ شَاءَاللهُ، فَقُمْ مَعَ بِلاَلٍ فَأَلْقِ عَلَيْهِ مَا رَأَيْتَ فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ،فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ

“Mimpimu itu adalah mimpi yangbenar, insya Allah. Bangkitlah engkau bersama Bilal, sampaikanlah kepadanya apayang kau dapatkan dalam mimpimu agar dia mengumandangkan adzan tersebut, karenadia lebih lantang suaranya darimu.”

Aku bangkit bersama Bilal. Mulailahkusampaikan padanya adzan yang kudengar, lalu ia mengumandangkannya. Umar ibnulKhaththab z mendengar adzan tersebut dari rumahnya. Ia pun keluar denganmenyeret rida’ (selendang)nya, seraya berkata, “Demi Dzat yang mengutusmudengan haq, wahai Rasulullah! Sungguh aku telah bermimpi persis seperti apayang dimimpikan Abdullah bin Zaid.”

“Hanya milik Allah-lah segalapujian,” jawab beliau3.

Dari hadits di atas, kita ketahuibahwa lafadz adzan itu digandakan4 sedangkan iqamat diganjilkan, kecualilafadz:

قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، قَدْقَامَتِ الصَّلاَةُ.

Yang lebih menguatkan hal ini adalahhadits Anas bin Malik z, ia berkata:

أُمِرَ بِلاَلٌ أَنْ يَشْفَعَالْأَذَانَ وَأَنْ يُوْتِرَ الْإِقَامَةَ إِلاَّ الْإِقاَمَةَ

“Bilal diperintah untuk menggandakanlafadz adzan dan mengganjilkan iqamat kecuali lafadz iqamat5.” (HR. Al-Bukharino. 605 dan Muslim no. 836)


Disyariatkannya Tarji’ dalam AdzanAbu Mahdzurah

Rasulullah n juga pernah mengajarkanlafadz yang sedikit berbeda yang dikenal di kalangan ahli fiqih dengan sebutanadzan Abu Mahdzurah z. Lafadznya sebagai berikut:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُاللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُاللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَىالصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَىالْفَلاَحِ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-ImamMuslim t dalam kitab Shahihnya no. 840.

Di awal lafadz adzan ini, kita lihatucapan takbir hanya dua kali, tidak empat kali sebagaimana hadits Abdullah binZaid z yang telah lewat. Namun yang rajih (kuat) dalam hal ini adalah lafadztakbir diucapkan empat kali:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُأَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

dengan beberapa alasan yangmenguatkan:

1. Hadits ini diriwayatkan pula olehselain Al-Imam Muslim t dengan empat kali takbir di awalnya. Yang paling jelasadalah riwayat An-Nasa’i t dalam Sunannya (no. 631) dari jalur syaikhnya, Ishaqbin Ibrahim, semisal riwayat Muslim. Dan Ishaq bin Ibrahim ini merupakan salahsatu syaikh Al-Imam Muslim dalam hadits ini juga6.

2. Abu Dawud t7 dan selainnya meriwayatkanhadits ini dari jalur Hammam dari Amir Al-Ahwal, dari Makhul, dari AbuMahdzurah z yang menyebutkan lafadz adzan yang diajarkan Rasulullah n kepadanyaada 19 kalimat8, sedangkan iqamat ada 17 kalimat. Lafadz adzan sebagaimanaberikut ini:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُأَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُاللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُاللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَىالصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَىالْفَلاَحِ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Adapun lafadz iqamat:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ،اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّاللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُاللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَىالصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَىالْفَلاَحِ

قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، قَدْقَامَتِ الصَّلاَةُ

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ.

3. Al-Qadhi Iyadh t berkata ketikamensyarah hadits di atas, “Dalam sebagian jalur-jalur riwayat Al-Farisi,disebutkan adzan itu dengan empat kali takbir (di awal).” (Al-Ikmal, 2/244)

Dengan tiga perkara di atas menjadijelaslah bahwa riwayat yang menyebutkan dua kali takbir di awal adzan teranggapmarjuh (lemah), sehingga yang rajih dari hadits Abu Mahdzurah z adalah empatkali takbir di awal. Ibnul Qaththan t berkata, “Yang shahih dalam hal iniadalah takbir diucapkan sebanyak empat kali. Dengan demikian sesuai biladikatakan adzan itu sembilan belas kalimat, di mana hal ini telah diikat denganhadits itu sendiri.” Beliau juga menyatakan, telah datang dalam sebagianriwayat Al-Imam Muslim t dengan penyebutan takbir empat kali. Sehingga inilahyang sepantasnya dalam Ash-Shahih.

Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata menguatkanperkara ini, “Sungguh Abu Nu’aim telah meriwayatkan dalam Al-Mustakhraj,demikian pula Al-Baihaqi, dari jalan Ishaq bin Ibrahim, dari Mu’adz bin Hisyamdengan sanadnya. Disebutkan dalam hadits tersebut pernyataan empat kali takbir.Al-Baihaqi menyatakan setelah membawakan hadits tersebut, “Hadits inidikeluarkan oleh Muslim dari jalan Ishaq. Demikian juga oleh Abu ‘Awanah dalamMustakhrajnya dari jalan Ali ibnul Madini, dari Mu’adz.” (At-Talkhis, 1/323).

Akan tetapi, adzan dengan dua kalitakbir tersebut telah didukung beberapa syawahid (pendukung) yang menunjukkanada asalnya dalam As-Sunnah9. Wallahu a’lam.

Dari hadits Abu Mahdzurah di ataskita dapat mengambil tiga faedah:

1. Tarji’ disyariatkan dalam adzan,yaitu muadzin mengucapkan syahadatain untuk pertama kali dengan suara rendahyang hanya didengar oleh orang-orang di sekitarnya. Setelah itu ia mengulangilagi syahadatain tersebut dengan suara yang keras/lantang. Tarji’ ini hanyadalam adzan, tidak ada dalam iqamat. Pensyariatan tarji’ ini merupakan mazhabMalik, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan jumhur ulama. (Al-Minhaj, 4/303. Subulus Salam2/48,49)

2. Selain mengganjilkan lafadziqamat, dibolehkan pula mentatsniyahnya, yaitu mengucapkan lafadz-lafadznyasebanyak dua kali. Ini merupakan keragaman iqamat shalat, sehingga kedua-duanyabisa diamalkan karena keduanya merupakan Sunnah Nabi n, di mana beliau yangmentaqrir (menetapkan kebenaran) mimpi Abdullah bin Zaid z yang di dalamnyaterdapat lafadz iqamat secara ganjil kecuali قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ, قَدْقَامَتِ الصَّلاَةُ . Beliau n pula yang mengajarkan lafadz adzan berikut iqamatkepada Abu Mahdzurah z serta memerintahkannya untuk mengumandangkan adzan diMakkah.

3. Beragamnya lafadz adzan. Ada yang19 kalimat sebagaimana hadits Abu Mahdzurah dengan tarji’ dan empat takbir yangawal yang diriwayatkan oleh Al-Jama’ah. Ada yang 17 kalimat sebagaimana haditsAbu Mahdzurah dengan tarji’ dan dua takbir di awalnya dalam riwayat Al-ImamMuslim. Ada yang 15 kalimat sebagaimana hadits Abdullah bin Zaid ibnu ‘AbdiRabbihi. Ini menunjukkan adanya tanawwu’at (berbagai macam lafadz) dalam adzan,sehingga boleh diamalkan salah satu di antaranya. Al-Imam Ahmad dan Ishaqmemandang bolehnya tarji’ dan tidak. Kedua hal itu merupakan sunnah.(Al-Majmu’, 3/102)

Wajib Urutan dalam Melafadzkan Adzan

Ibnu Qudamah t berkata, “Tidak sahadzan kecuali dengan berurutan. Karena bila tidak berurutan lafadznya niscayatujuan yang hendak dicapai dengan adzan tidak akan diperoleh, yaitu sebagaipemberitahuan. Juga, bila tidak berurutan niscaya tidak akan diketahui bahwaitu adalah adzan. Di samping pula adzan memang disyariatkan dengan berurutan,dan Nabi n mengajari Abu Mahdzurah secara berurutan.” (Al-Mughni, kitabushShalah, fashl La Yashihhul Adzan illa Murattaban)

Ibnu Hazm t berkata, “Tidak bolehterbalik dalam melafadzkan adzan ataupun iqamat. Tidak boleh mengedepankankalimat yang semestinya diakhirkan. Siapa yang melakukan hal ini berarti iatidak melakukan adzan dan iqamat, berarti pula ia shalat tanpa adzan dan tanpaiqamat.”

Ibnu Hazm t juga menyebutkan bahwaRasulullah n mengajarkan adzan dan iqamat secara berurutan, kalimat yangpertama kemudian yang berikutnya. Beliau n memerintahkan kepada orang yangbeliau ajarkan untuk mengucapkan seperti apa yang beliau sampaikan. Setelahmengucapkan lafadz yang awal, baru yang berikutnya, demikian sampai keduanyaselesai. Bila demikian keadaannya, maka tidak halal bagi seorang punmenyelisihi perkara Nabi n dalam mengedepankan apa yang beliau akhirkan danmengakhirkan apa yang beliau kedepankan.” (Al-Muhalla, 2/194,195) Wallahuta’ala a’lam bish-shawab.

(insya Allah, bersambung)

1 Ini merupakan adzan orang-orangKufah, dan merupakan pendapat Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsauri, dan Ahmad dalamsatu riwayat sebagaimana hikayat Al-Khiraqi. (Al-Majmu’ 3/102)

2 Artinya: Telah tegak shalat, telahtegak shalat.

3 Hadits ini hasan sebagaimana dalamAl-Irwa’ no. 246.

4 Kecuali takbir yang awal sejumlahempat kali dan tahlil di akhir adzan hanya sekali.

5 Yaitu lafadz: قَدْ قَامَتِالصَّلاَةُ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ

6 Syaikhnya yang lain adalah AbuGhassan Al-Misma’i Malik bin Abdil Wahid.

7 Dalam Sunannya no. 502

8 Adzan ini merupakan adzan pendudukMakkah. Al-Imam Asy-Syafi’i t berpendapat demikian sebagaimana kata At-Tirmidzit dalam Sunannya (1/124). Pendapat ini yang dipilih Ibnu Hazm t (Al-Muhalla2/185).

9 Penduduk Madinah menggunakan adzandengan dua kali takbir di awal, yang merupakan pendapat Al-Imam Malik t dalamAl-Mudawwanah (1/57), berdalilkan hadits Abu Mahdzurah z yang menyebutkan duakali takbir di awal.

Perubahan jadwal dauroh mBantul 2011

Bismillah,

Al-Mar-u fi tafkirin Wallahu fi tadbirin

Manusia hanya bisa merencanakan, Allah lah yang menentukan.

Sehubungan dengan tertundanya kedatangan Syaikh Ubaid maka acara dauroh masyayikh mengalami perubahan jadwal sbb:

1. Untuk Dauroh umum, tgl 16-17 yang bertempat di Masjid Agung Manunggal Bantul insya Allah akan diisi oleh Syaikh Abdullah Al Mar’i dan Syaikh Kholid azh zhafiri. Kemudian pada tgl 24 juli 2011 akan diadakan dauroh bersama Syaikh Ubaid dan Syaikh Muhammad Ghalib.
2. Dauroh Asatidzah dari tgl 16 – 21 juli yang bertempat di Ma’had Al-Anshor diperpanjang sampai tgl 26 juli 2011.

Senin, 11 Juli 2011

Alam adalah Tentara Allah...Bersahabatlah !

Alam adalah Tentara Allah...Bersahabatlah !

Merapi dalam keheningannya..

Sahabat Hikmah...
Alam semesta ciptaan Allah adalah hamba-hamba Allah.
Mereka juga tentara Allah yang sangat tangguh dan patuh.

”Dan kepunyaan Allah-lah TENTARA langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Al Fath 48:4)

Laut, hujan, angin topan, bumi, gunung, binatang buas…
Hingga serangga kecil yang merayap lambat...
Adalah tentara Allah yang sangat perkasa.
Para tentara Allah itu tunduk patuh kepada Allah,
Mereka bertasbih dan betahmid memuji-Nya.

Alam semesta bertasbih
”Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan berTASBIH dengan MEMUJI-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti TASBIH mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Isra’ 17:44)

Mereka siap diperintahkan oleh Allah...
Untuk menghukum orang kafir sebagai musuh Allah.
Atau melindungi orang-orang beriman sebagai kekasih-Nya.

Kita bisa membaca ayat Al Quran bagaimana Allah mengirimkan tentara-Nya...
Untuk menghukum Fir’aun dan kaumnya yang melampaui batas.

”Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (QS Al A’raf 7:133) Para ahli tafsir mengatakan yang dimaksud darah dalah air yang berubah menjadi darah.

Ilustrasi Nabi Musa membelah Laut Merah
Dan Laut Merah pun bisa bersahabat dengan Nabi Musa,
Tetapi berubah menjadi musuh yang ganas buat Fir’aun dan tentaranya.


Pada kisah Rasulullah yang hijrah dan bersembunyi di Gua Tsur,

Gua Tsur yang kecil, tempat sembunyi Rasulullah dan Abu Bakar
Burung merpati dan laba-laba tunduk atas perintah Allah...
Mereka dengan cepat membuat sarang dan bertelur di mulut gua...
Sehingga musyrikin Mekah tidak menyangka ada manusia di dalam gua.

Demikian juga bagaimana langit dan bumi menjadi tentara Allah ...
Yang dikirim kepada ummat Nabi Nuh yang angkuh dan keras kepala.
Langit menumpahkan bermiliar kubik air, deras dan sangat deras...

Ilustrasi bahtera Nabi Nuh
Dengan disertai angin topan yang sangat kencang.
Bahkan air juga memuncrat hebat dari dalam tanah.
Tiba-tiba bumi menjadi hamparan samudera yang sangat luas.
Yang menenggelamkan kaum Nabi Nuh,
Dan menyelamatkan Nabi Nuh dan pengikutnya.

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir." Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah," Dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim." (QS Hud 11:42-44)

Alam semesta dalah sesama ciptaan Allah,
Kita bisa bersahabat dengan alam atas ikatan iman.
Bersama alam kita bertasbih, mengagungkan Allah, memuji-Nya,
Menyembah-Nya dan mengesakan-Nya.

”Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya berTASBIH apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) SHALAT dan TASBIHnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS An Nur 24:41)

Bersahabat dengan alam dengan ikatan iman memberikan banyak manfaat.
Diantaranya, alam bisa menjadi pengingat kita setiap saat.
Terutama setelah berbagai musibah datang silih berganti di Bumi Pertiwi.
Alam menampakkan ketundukkannya kepada Sang Khaliq,
Yang tunduk atas perintah-Nya untuk menunjukkan kebesaran-Nya
Bahwa alam adalah TENTARA-Nya...
Bahwa alam juga berTASBIH dan berTAHMID...
Bahkan merekapun SHALAT...

Bersahabat dengan alam dengan ikatan iman...
Mengingatkan kita bagaimana menjalani hidup dengan baik.
Mengingatkan kita dari kesalahan dan dosa.
Bila seluruh isi alam ini beriman selalu bertahmid kepada-Nya.
Alangkah malunya kita, bila selalu bermaksiat kepada-Nya.
Bila seluruh isi alam ini shalat dan bertasbih kepada-Nya.
Alangkah hinanya manusia yang berakal bila tidak shalat dan takabur kepada-Nya.

Ya... semestinya kita malu dengan tanah yang kita injak,
Malu dengan udara yang kita hirup,
Malu kepada matahari yang menerangi kita,
Malu kepada pohon-pohon yang berdiri tenang,
Malu kepad nyamuk-nyamuk yang beterbangan sekitar kita,
Malu kepada semut-semut yang merayap ketakutan,
Bahkan malu kepada bayang-bayang kita sendiri yang selalu mengikuti kita.

”Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan SUJUD kepada Allah, sedang mereka berendah diri ?
Dan kepada Allah sajalah berSUJUD segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka TAKUT kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).” (QS An Nahl 16:48-50)

Mereka senantiasa bertasbih, bertahmid, sujud dan shalat serta takut kepada Allah...
Sementara kita? Apa yang selama ini kita lakukan kepada Allah?
Tadi pagi... ? Tadi malam...? Kemarin... ? Dulu...? Hari ini...?

Alam memberi kita inspirasi iman yang sangat kaya.
Dalam diamnya, mereka tengah bersuara dengan bahasa yang lain.
Seperti tengah menohok jantung kita, menyadarkan tentang Allah.
Tidak sulit memahami perspektif iman dalam bersahabat dengan alam.
Hanya dibutuhkan sedikit penghayatan dan perenungan...
Serta sedikit waktu untuk berlatih jujur.
Tetapi itu semua akan sulit bagi mereka yang dengan sengaja menutup mata hatinya.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berAKAL, (yaitu) orang-orang yang BERDZIKIR (mengingat) Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka meMIKIRkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):
"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imran 3:190-191)

Bila kita perhatikan...
Dari setiap jengkal daratan di bumi...
Dari setiap lereng gunung yang lebat...
Dari setiap hamparan lautan yang luas...
Para tentara Allah tersebut tak pernah lelah MEMBERI...
Berapakah yang telah dinikmati oleh manusia dari alam semesta ini ?
Dan itu semua adalah atas perintah-Nya...
Maka selayaknya kita bersyukur kepada-Nya.

Sehingga bila kita merusak alam dan lalai dan lupa kepada Penguasanya,
Allah akan menegur kita dengan tentara-Nya...
Agar kita kembali bersujud dan bertasbih kepada-Nya.

Korban Merapi
”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" (Sesungghnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali." Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al baqarah 2:155-157)

Dalam seluruh makna tersebut di atas itulah kita menghayati...
Alam semesta adalah tentara Allah yang beriman dan patuh kepada-Nya.
Karenanya kita harus bersahabat dengan mereka dalam ikatan iman.
Bukan sebaliknya malah membuat kerusakan, keonaran....
dan bangga menumpuk dosa di atasnya.
Dan... kita juga harus saling mengingatkan...
Karena 'fitnah' tersebut tidak hanya menimpa orang-orang yang selalu berbuat dosa saja,
Tetapi juga akan menimpa orang-orang yang beriman di sekelilingnya.

”Dan takutlah (peliharalah) dirimu daripada fitnah (bencana) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras hukuman-Nya.” (QS Al Anfal 8:25)

Sayyidina Ali bin Abi Thalib memberi nasehat:
“Tidaklah musibah itu turun, kecuali lantaran dosa. Dan tidaklah ia bisa diangkat kecuali dengan taubat”

Kita tidak sedang mengajari siapapun.
Apalagi menggurui para korban bencana yang mencabik-cabik negeri ini.
Kita sangat sadar, untuk tabah atas semua kepahitan ini saja tidak mudah.
Tetapi setelah segala duka nestapa ini...
Tidak adakah umpan balik yang lebih bertenaga ?
Setelah segala kehilangan yang menyakitkan ini...
Haruskah kita kehilangan spirit untuk menghayati rahasia alam dibalik semuanya ?

Kita harus menjadi seorang mukmin, dalam suka maupun duka.
Kita harus menjadi seorang mukmin, dalam karunia maupun bencana.
Allah yang Maha Suci lagi Maha Bijaksana tidak akan salah membedakan...
Mana diantara kita yang diadzab karena dosanya...
Dan mana yang sedang diuji untuk menaikkan derajat keimanannya.
Meski semuanya tercebur dalam satu kubangan bencana yang sama rasanya.
Kita memang harus tetap menjadi seorang mukmin, apappun yang terjadi.
Meskipun ini memang sulit...
Tetapi pilihan lain akan jauh lebih menyakitkann.

Wallahu a’lam bishowab.