Ketika iman bersemi dalam hati sesuai tuntunan syariat, niscaya hati ini rindu terbang ke jannah dan takut siksa neraka

Rabu, 20 Juli 2011

Pelipur Lara di Tengah Keterasingan


Banyak diantara agama, dan sunnah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-yang dilalaikan orang pada hari ini sehingga terkadang menjadi sesuatu yang mahjur(ditinggalkan) dan ghorib (asing) di mata pemeluknya sendiri.
Inilah yang pernah diisyaratkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-ketika beliau bersabda dalam sebuah hadits,
بَدَأَاْلإِسْلاَمُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ غَرِيْبًا فَطُوْبَىلِلْغُرَبَاءِ
"Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali (asing),sebagaimana ia muncul dalam keadaan asing. Maka beruntunglah orang-orangasing". [HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman (232)]

Adakah Bid’ah Hasanah?– Ucapan ‘Umar bin Khatthab



Pendebat menetapkan adanya bid’ah hasanah dengan dalil, ucapan ‘Umar bin Khatthab radhiyallahu’anhu
نِعْمَ الْبِدْعَة هَذِهِ
“Sebaik-baik bid’ah adalah ini (tarawih berjamaah).” (HR. Bukhari)

Dalil ini tidak bisa digunakan sebagai penetapan adanya bid’ah hasanah dikarenakan beberapa alasan:
ALASAN PERTAMA:
Anggaplah kita terima dalalah (pendalilan) ucapan beliau seperti yang mereka maukan – bahwa bid’ah itu ada

Senin, 18 Juli 2011

Pamflet

Live Streaming Kajian Asatidz di ma'had AlAnshor

http://www.salafy.or.id/?page_id=1751

PERUBAHAN JADWAL DAUROH KHUSUS ASATIDZAH

July 11, 2011
Terkait dengan adanya beberapa perubahan teknis, diumumkan kepada asatidzah peserta daurah khusus, bahwa daurah tersebut insya Allah menjadi sbb.:

Waktu             : Sabtu—Kamis, 14—19 Sya’ban 1432 H / 16—21 Juli 2011
Tempat           : Kompleks Ma’had Al-Anshar, Wonosalam, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, DIY
Materi             :
1. Asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri                   : al-Ushul min Ilmil Ushul
2. Asy-Syaikh Khalid azh-Zhafiri             : al-Qaulus Sadid (Syaikh Abdurrahman as-Sa’di)
3. Asy-Syaikh Muhammad Ghalib : Fadhl Ilmi as-Salaf (Ibnu Rajab)

Download Rekaman Dauroh Nasional Ahlus Sunnah wal Jama’ah 2011 di Masjid Agung Manunggal Bantul

klik disini: http://www.salafy.or.id/?page_id=1813

Kamis, 14 Juli 2011

Ikutilah Jalannya Para Shahabat Dan Nasehat Syaikh al-’Utsaimin kepada para pengikut manhaj salafush shalih




Mengapa para shahabat?

Allåh berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ

Kalian adalah umat yang terbaik… (Al-Imraan: 110)

Dijelaskan maknanya oleh Ibnu Abbas, Mujahid, ‘Athiyyah, ‘Ikrimah, ‘Athå dan ar-Rabiy bin Anas:
“Yaitu sebaik-baik manusia bagi manusia lainnya.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Sedangkan Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي
“Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku (yakni para shahabat)…” (HR. Bukhariy)
Jelaslah bahwa para shåhabat merupakan sebaik-baik manusia dan umat terbaik.

Berkata Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaliy:
Jika ditanya :
Ini umum pada umat Islam seluruhnya tidak khusus untuk generasi sahabat saja.

Iqamah (bagian dua)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim)


Menyelai iqamah dan shalat dengan pembicaraan atau perbuatan karena kebutuhan

Al-Imam Al-Bukhari t meriwayatkan dari jalur Humaid, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Tsabit Al-Bunani tentang seseorang yang berbicara setelah diserukan iqamah shalat. Maka ia menyampaikan kepadaku bahwa Anas bin Malik z berkata, ‘Pernah diserukan iqamah shalat, lalu ada seorang lelaki menghadang Nabi n, kemudian ia menahan beliau dari shalat (karena mengajak beliau bicara) setelah diserukan iqamah’.” (HR. Al-Bukhari no. 643)

Iqomah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim)


Hukum Iqamah

Dalam pembahasan adzan terdahulu, kita telah mengetahui bahwa hukum iqamah adalah fardhu kifayah dalam shalat berjamaah. Adapun untuk shalat sendiri, hukumnya mustahab (sunnah), dengan dalil sabda Rasulullah n:

إِذَا كَانَ الرَّجُلُ بِأَرْضٍ قِيٍّ، فَحَانَتِ الصَّلاَةُ فَلْيَتَوَضَّأْ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ مَاءً فَلْيَتَيَمَّمْ، فَإِنْ أَقَامَ صَلَّى مَعَهُ مَلَكَاهُ، وَإِنْ أَذَّنَ وَأَقَامَ صَلَّى خَلْفَهُ مِنْ جُنُوْدِ اللهِ مَا لاَ يُرَى طَرْفاَهُ

“Bila seseorang berada di tanah yang tandus tidak berpenghuni lalu datang waktu shalat, ia pun berwudhu dan bila tidak beroleh air ia bertayammum.

Adzan dan Iqomat (bagian tiga)





(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)





Adzan Dikumandangkan Pada Waktunya


Bila telah masuk waktu shalat, dikumandangkanlah adzan sebagai ajakan untuk menghadiri shalat berjamaah. Namun ada adzan yang diserukan sebelum masuk waktu shalat, yaitu adzan sebelum shalat subuh yang dikenal dengan adzan pertama. Kata Ibnu Hazm t, “Tidak boleh diserukan adzan untuk shalat sebelum masuk waktunya terkecuali shalat subuh saja (adzan pertama, pen.).” (Al-Muhalla, 2/159)

Adzan dan Iqomat (bagian dua)

(ditulis oleh: Al-Ustadz AbuIshaq Muslim Al-Atsari)


Lafadz-lafadz Adzan dan Iqamat

Al-Imam Muhammad bin YahyaAdz-Dzuhli t berkata: “Riwayat yang paling shahih (tentang lafadz-lafadz adzanyang dimimpikan oleh Abdullah bin Zaid z, pen.) adalah riwayat Muhammad binIshaq, yang mendengarkan dari Muhammad bin Ibrahim ibnul Harits At-Taimi, dariMuhammad bin Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi, yang mendengarkan dariayahnya, Abdullah bin Zaid, karena Muhammad telah mendengarkan langsung daribapaknya yakni Abdullah.”

Riwayat ini dikeluarkan oleh Al-ImamAhmad t (3/43), Ashabus Sunan kecuali An-Nasa’i t, dan selainnya. At-Tirmidzi tmenukilkan penshahihan Al-Imam Al-Bukhari t terhadap riwayat ini di dalamAl-Ilal. Dishahihkan pula oleh Ibnu Khuzaimah t, beliau menyatakan hadits inishahih dan pasti dari sisi penukilan, para perawinya bukan orang-orang yangmelakukan tadlis (penyebutan secara samar) dalam periwayatannya. (Ats-Tsamar,1/115)

Dalam hadits tersebut, Abdullah binZaid z berkata: Ketika Rasulullah n memerintahkan untuk menggunakan loncengsebagai tanda bagi orang-orang untuk berkumpul guna mengerjakan shalatberjamaah, ada seseorang mengelilingiku dengan membawa lonceng di tangannyadalam keadaan aku tidur saat itu. Aku berkata, “Wahai hamba Allah, apakahengkau menjual lonceng?”

“Apa yang hendak kau perbuat denganlonceng?” tanyanya.

“Kami ingin memanggil orang-orangberkumpul untuk shalat dengan membunyikan lonceng,” jawabku.

“Maukah aku tunjukkan kepadamu apayang lebih baik daripada itu?” tanyanya.

Aku katakan, “Tentu aku mau.”

Orang itu berkata, ”Engkaumengatakan:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُأَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُاللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَىالصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَىالْفَلاَحِ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

Aku bersaksi bahwa tidak adasesembahan yang benar kecuali Allah. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahanyang benar kecuali Allah.

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalahutusan Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Marilah mengerjakan shalat. Marilahmengerjakan shalat.

Marilah (menuju) kepada kemenangan.Marilah (menuju) kepada kemenangan.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah.1

Kemudian ia mundur dariku ke tempatyang tidak seberapa jauh, setelahnya ia berkata, ”Jika engkau iqamat untukshalat, engkau katakan:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَىالْفَلاَحِ

قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، قَدْقَامَتِ الصَّلاَةُ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Di pagi harinya, aku menemuiRasulullah n untuk mengabarkan mimpiku. Beliau bersabda:

إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٌّ إِنْ شَاءَاللهُ، فَقُمْ مَعَ بِلاَلٍ فَأَلْقِ عَلَيْهِ مَا رَأَيْتَ فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ،فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ

“Mimpimu itu adalah mimpi yangbenar, insya Allah. Bangkitlah engkau bersama Bilal, sampaikanlah kepadanya apayang kau dapatkan dalam mimpimu agar dia mengumandangkan adzan tersebut, karenadia lebih lantang suaranya darimu.”

Aku bangkit bersama Bilal. Mulailahkusampaikan padanya adzan yang kudengar, lalu ia mengumandangkannya. Umar ibnulKhaththab z mendengar adzan tersebut dari rumahnya. Ia pun keluar denganmenyeret rida’ (selendang)nya, seraya berkata, “Demi Dzat yang mengutusmudengan haq, wahai Rasulullah! Sungguh aku telah bermimpi persis seperti apayang dimimpikan Abdullah bin Zaid.”

“Hanya milik Allah-lah segalapujian,” jawab beliau3.

Dari hadits di atas, kita ketahuibahwa lafadz adzan itu digandakan4 sedangkan iqamat diganjilkan, kecualilafadz:

قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، قَدْقَامَتِ الصَّلاَةُ.

Yang lebih menguatkan hal ini adalahhadits Anas bin Malik z, ia berkata:

أُمِرَ بِلاَلٌ أَنْ يَشْفَعَالْأَذَانَ وَأَنْ يُوْتِرَ الْإِقَامَةَ إِلاَّ الْإِقاَمَةَ

“Bilal diperintah untuk menggandakanlafadz adzan dan mengganjilkan iqamat kecuali lafadz iqamat5.” (HR. Al-Bukharino. 605 dan Muslim no. 836)


Disyariatkannya Tarji’ dalam AdzanAbu Mahdzurah

Rasulullah n juga pernah mengajarkanlafadz yang sedikit berbeda yang dikenal di kalangan ahli fiqih dengan sebutanadzan Abu Mahdzurah z. Lafadznya sebagai berikut:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُاللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُاللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَىالصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَىالْفَلاَحِ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-ImamMuslim t dalam kitab Shahihnya no. 840.

Di awal lafadz adzan ini, kita lihatucapan takbir hanya dua kali, tidak empat kali sebagaimana hadits Abdullah binZaid z yang telah lewat. Namun yang rajih (kuat) dalam hal ini adalah lafadztakbir diucapkan empat kali:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُأَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

dengan beberapa alasan yangmenguatkan:

1. Hadits ini diriwayatkan pula olehselain Al-Imam Muslim t dengan empat kali takbir di awalnya. Yang paling jelasadalah riwayat An-Nasa’i t dalam Sunannya (no. 631) dari jalur syaikhnya, Ishaqbin Ibrahim, semisal riwayat Muslim. Dan Ishaq bin Ibrahim ini merupakan salahsatu syaikh Al-Imam Muslim dalam hadits ini juga6.

2. Abu Dawud t7 dan selainnya meriwayatkanhadits ini dari jalur Hammam dari Amir Al-Ahwal, dari Makhul, dari AbuMahdzurah z yang menyebutkan lafadz adzan yang diajarkan Rasulullah n kepadanyaada 19 kalimat8, sedangkan iqamat ada 17 kalimat. Lafadz adzan sebagaimanaberikut ini:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُأَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُاللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُاللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَىالصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَىالْفَلاَحِ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Adapun lafadz iqamat:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ،اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّاللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُاللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَىالصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَىالْفَلاَحِ

قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، قَدْقَامَتِ الصَّلاَةُ

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ.

3. Al-Qadhi Iyadh t berkata ketikamensyarah hadits di atas, “Dalam sebagian jalur-jalur riwayat Al-Farisi,disebutkan adzan itu dengan empat kali takbir (di awal).” (Al-Ikmal, 2/244)

Dengan tiga perkara di atas menjadijelaslah bahwa riwayat yang menyebutkan dua kali takbir di awal adzan teranggapmarjuh (lemah), sehingga yang rajih dari hadits Abu Mahdzurah z adalah empatkali takbir di awal. Ibnul Qaththan t berkata, “Yang shahih dalam hal iniadalah takbir diucapkan sebanyak empat kali. Dengan demikian sesuai biladikatakan adzan itu sembilan belas kalimat, di mana hal ini telah diikat denganhadits itu sendiri.” Beliau juga menyatakan, telah datang dalam sebagianriwayat Al-Imam Muslim t dengan penyebutan takbir empat kali. Sehingga inilahyang sepantasnya dalam Ash-Shahih.

Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata menguatkanperkara ini, “Sungguh Abu Nu’aim telah meriwayatkan dalam Al-Mustakhraj,demikian pula Al-Baihaqi, dari jalan Ishaq bin Ibrahim, dari Mu’adz bin Hisyamdengan sanadnya. Disebutkan dalam hadits tersebut pernyataan empat kali takbir.Al-Baihaqi menyatakan setelah membawakan hadits tersebut, “Hadits inidikeluarkan oleh Muslim dari jalan Ishaq. Demikian juga oleh Abu ‘Awanah dalamMustakhrajnya dari jalan Ali ibnul Madini, dari Mu’adz.” (At-Talkhis, 1/323).

Akan tetapi, adzan dengan dua kalitakbir tersebut telah didukung beberapa syawahid (pendukung) yang menunjukkanada asalnya dalam As-Sunnah9. Wallahu a’lam.

Dari hadits Abu Mahdzurah di ataskita dapat mengambil tiga faedah:

1. Tarji’ disyariatkan dalam adzan,yaitu muadzin mengucapkan syahadatain untuk pertama kali dengan suara rendahyang hanya didengar oleh orang-orang di sekitarnya. Setelah itu ia mengulangilagi syahadatain tersebut dengan suara yang keras/lantang. Tarji’ ini hanyadalam adzan, tidak ada dalam iqamat. Pensyariatan tarji’ ini merupakan mazhabMalik, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan jumhur ulama. (Al-Minhaj, 4/303. Subulus Salam2/48,49)

2. Selain mengganjilkan lafadziqamat, dibolehkan pula mentatsniyahnya, yaitu mengucapkan lafadz-lafadznyasebanyak dua kali. Ini merupakan keragaman iqamat shalat, sehingga kedua-duanyabisa diamalkan karena keduanya merupakan Sunnah Nabi n, di mana beliau yangmentaqrir (menetapkan kebenaran) mimpi Abdullah bin Zaid z yang di dalamnyaterdapat lafadz iqamat secara ganjil kecuali قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ, قَدْقَامَتِ الصَّلاَةُ . Beliau n pula yang mengajarkan lafadz adzan berikut iqamatkepada Abu Mahdzurah z serta memerintahkannya untuk mengumandangkan adzan diMakkah.

3. Beragamnya lafadz adzan. Ada yang19 kalimat sebagaimana hadits Abu Mahdzurah dengan tarji’ dan empat takbir yangawal yang diriwayatkan oleh Al-Jama’ah. Ada yang 17 kalimat sebagaimana haditsAbu Mahdzurah dengan tarji’ dan dua takbir di awalnya dalam riwayat Al-ImamMuslim. Ada yang 15 kalimat sebagaimana hadits Abdullah bin Zaid ibnu ‘AbdiRabbihi. Ini menunjukkan adanya tanawwu’at (berbagai macam lafadz) dalam adzan,sehingga boleh diamalkan salah satu di antaranya. Al-Imam Ahmad dan Ishaqmemandang bolehnya tarji’ dan tidak. Kedua hal itu merupakan sunnah.(Al-Majmu’, 3/102)

Wajib Urutan dalam Melafadzkan Adzan

Ibnu Qudamah t berkata, “Tidak sahadzan kecuali dengan berurutan. Karena bila tidak berurutan lafadznya niscayatujuan yang hendak dicapai dengan adzan tidak akan diperoleh, yaitu sebagaipemberitahuan. Juga, bila tidak berurutan niscaya tidak akan diketahui bahwaitu adalah adzan. Di samping pula adzan memang disyariatkan dengan berurutan,dan Nabi n mengajari Abu Mahdzurah secara berurutan.” (Al-Mughni, kitabushShalah, fashl La Yashihhul Adzan illa Murattaban)

Ibnu Hazm t berkata, “Tidak bolehterbalik dalam melafadzkan adzan ataupun iqamat. Tidak boleh mengedepankankalimat yang semestinya diakhirkan. Siapa yang melakukan hal ini berarti iatidak melakukan adzan dan iqamat, berarti pula ia shalat tanpa adzan dan tanpaiqamat.”

Ibnu Hazm t juga menyebutkan bahwaRasulullah n mengajarkan adzan dan iqamat secara berurutan, kalimat yangpertama kemudian yang berikutnya. Beliau n memerintahkan kepada orang yangbeliau ajarkan untuk mengucapkan seperti apa yang beliau sampaikan. Setelahmengucapkan lafadz yang awal, baru yang berikutnya, demikian sampai keduanyaselesai. Bila demikian keadaannya, maka tidak halal bagi seorang punmenyelisihi perkara Nabi n dalam mengedepankan apa yang beliau akhirkan danmengakhirkan apa yang beliau kedepankan.” (Al-Muhalla, 2/194,195) Wallahuta’ala a’lam bish-shawab.

(insya Allah, bersambung)

1 Ini merupakan adzan orang-orangKufah, dan merupakan pendapat Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsauri, dan Ahmad dalamsatu riwayat sebagaimana hikayat Al-Khiraqi. (Al-Majmu’ 3/102)

2 Artinya: Telah tegak shalat, telahtegak shalat.

3 Hadits ini hasan sebagaimana dalamAl-Irwa’ no. 246.

4 Kecuali takbir yang awal sejumlahempat kali dan tahlil di akhir adzan hanya sekali.

5 Yaitu lafadz: قَدْ قَامَتِالصَّلاَةُ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ

6 Syaikhnya yang lain adalah AbuGhassan Al-Misma’i Malik bin Abdil Wahid.

7 Dalam Sunannya no. 502

8 Adzan ini merupakan adzan pendudukMakkah. Al-Imam Asy-Syafi’i t berpendapat demikian sebagaimana kata At-Tirmidzit dalam Sunannya (1/124). Pendapat ini yang dipilih Ibnu Hazm t (Al-Muhalla2/185).

9 Penduduk Madinah menggunakan adzandengan dua kali takbir di awal, yang merupakan pendapat Al-Imam Malik t dalamAl-Mudawwanah (1/57), berdalilkan hadits Abu Mahdzurah z yang menyebutkan duakali takbir di awal.

Perubahan jadwal dauroh mBantul 2011

Bismillah,

Al-Mar-u fi tafkirin Wallahu fi tadbirin

Manusia hanya bisa merencanakan, Allah lah yang menentukan.

Sehubungan dengan tertundanya kedatangan Syaikh Ubaid maka acara dauroh masyayikh mengalami perubahan jadwal sbb:

1. Untuk Dauroh umum, tgl 16-17 yang bertempat di Masjid Agung Manunggal Bantul insya Allah akan diisi oleh Syaikh Abdullah Al Mar’i dan Syaikh Kholid azh zhafiri. Kemudian pada tgl 24 juli 2011 akan diadakan dauroh bersama Syaikh Ubaid dan Syaikh Muhammad Ghalib.
2. Dauroh Asatidzah dari tgl 16 – 21 juli yang bertempat di Ma’had Al-Anshor diperpanjang sampai tgl 26 juli 2011.

Senin, 11 Juli 2011

Alam adalah Tentara Allah...Bersahabatlah !

Alam adalah Tentara Allah...Bersahabatlah !

Merapi dalam keheningannya..

Sahabat Hikmah...
Alam semesta ciptaan Allah adalah hamba-hamba Allah.
Mereka juga tentara Allah yang sangat tangguh dan patuh.

”Dan kepunyaan Allah-lah TENTARA langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Al Fath 48:4)

Laut, hujan, angin topan, bumi, gunung, binatang buas…
Hingga serangga kecil yang merayap lambat...
Adalah tentara Allah yang sangat perkasa.
Para tentara Allah itu tunduk patuh kepada Allah,
Mereka bertasbih dan betahmid memuji-Nya.

Alam semesta bertasbih
”Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan berTASBIH dengan MEMUJI-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti TASBIH mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Isra’ 17:44)

Mereka siap diperintahkan oleh Allah...
Untuk menghukum orang kafir sebagai musuh Allah.
Atau melindungi orang-orang beriman sebagai kekasih-Nya.

Kita bisa membaca ayat Al Quran bagaimana Allah mengirimkan tentara-Nya...
Untuk menghukum Fir’aun dan kaumnya yang melampaui batas.

”Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (QS Al A’raf 7:133) Para ahli tafsir mengatakan yang dimaksud darah dalah air yang berubah menjadi darah.

Ilustrasi Nabi Musa membelah Laut Merah
Dan Laut Merah pun bisa bersahabat dengan Nabi Musa,
Tetapi berubah menjadi musuh yang ganas buat Fir’aun dan tentaranya.


Pada kisah Rasulullah yang hijrah dan bersembunyi di Gua Tsur,

Gua Tsur yang kecil, tempat sembunyi Rasulullah dan Abu Bakar
Burung merpati dan laba-laba tunduk atas perintah Allah...
Mereka dengan cepat membuat sarang dan bertelur di mulut gua...
Sehingga musyrikin Mekah tidak menyangka ada manusia di dalam gua.

Demikian juga bagaimana langit dan bumi menjadi tentara Allah ...
Yang dikirim kepada ummat Nabi Nuh yang angkuh dan keras kepala.
Langit menumpahkan bermiliar kubik air, deras dan sangat deras...

Ilustrasi bahtera Nabi Nuh
Dengan disertai angin topan yang sangat kencang.
Bahkan air juga memuncrat hebat dari dalam tanah.
Tiba-tiba bumi menjadi hamparan samudera yang sangat luas.
Yang menenggelamkan kaum Nabi Nuh,
Dan menyelamatkan Nabi Nuh dan pengikutnya.

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir." Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah," Dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim." (QS Hud 11:42-44)

Alam semesta dalah sesama ciptaan Allah,
Kita bisa bersahabat dengan alam atas ikatan iman.
Bersama alam kita bertasbih, mengagungkan Allah, memuji-Nya,
Menyembah-Nya dan mengesakan-Nya.

”Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya berTASBIH apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) SHALAT dan TASBIHnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS An Nur 24:41)

Bersahabat dengan alam dengan ikatan iman memberikan banyak manfaat.
Diantaranya, alam bisa menjadi pengingat kita setiap saat.
Terutama setelah berbagai musibah datang silih berganti di Bumi Pertiwi.
Alam menampakkan ketundukkannya kepada Sang Khaliq,
Yang tunduk atas perintah-Nya untuk menunjukkan kebesaran-Nya
Bahwa alam adalah TENTARA-Nya...
Bahwa alam juga berTASBIH dan berTAHMID...
Bahkan merekapun SHALAT...

Bersahabat dengan alam dengan ikatan iman...
Mengingatkan kita bagaimana menjalani hidup dengan baik.
Mengingatkan kita dari kesalahan dan dosa.
Bila seluruh isi alam ini beriman selalu bertahmid kepada-Nya.
Alangkah malunya kita, bila selalu bermaksiat kepada-Nya.
Bila seluruh isi alam ini shalat dan bertasbih kepada-Nya.
Alangkah hinanya manusia yang berakal bila tidak shalat dan takabur kepada-Nya.

Ya... semestinya kita malu dengan tanah yang kita injak,
Malu dengan udara yang kita hirup,
Malu kepada matahari yang menerangi kita,
Malu kepada pohon-pohon yang berdiri tenang,
Malu kepad nyamuk-nyamuk yang beterbangan sekitar kita,
Malu kepada semut-semut yang merayap ketakutan,
Bahkan malu kepada bayang-bayang kita sendiri yang selalu mengikuti kita.

”Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan SUJUD kepada Allah, sedang mereka berendah diri ?
Dan kepada Allah sajalah berSUJUD segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka TAKUT kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).” (QS An Nahl 16:48-50)

Mereka senantiasa bertasbih, bertahmid, sujud dan shalat serta takut kepada Allah...
Sementara kita? Apa yang selama ini kita lakukan kepada Allah?
Tadi pagi... ? Tadi malam...? Kemarin... ? Dulu...? Hari ini...?

Alam memberi kita inspirasi iman yang sangat kaya.
Dalam diamnya, mereka tengah bersuara dengan bahasa yang lain.
Seperti tengah menohok jantung kita, menyadarkan tentang Allah.
Tidak sulit memahami perspektif iman dalam bersahabat dengan alam.
Hanya dibutuhkan sedikit penghayatan dan perenungan...
Serta sedikit waktu untuk berlatih jujur.
Tetapi itu semua akan sulit bagi mereka yang dengan sengaja menutup mata hatinya.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berAKAL, (yaitu) orang-orang yang BERDZIKIR (mengingat) Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka meMIKIRkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):
"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imran 3:190-191)

Bila kita perhatikan...
Dari setiap jengkal daratan di bumi...
Dari setiap lereng gunung yang lebat...
Dari setiap hamparan lautan yang luas...
Para tentara Allah tersebut tak pernah lelah MEMBERI...
Berapakah yang telah dinikmati oleh manusia dari alam semesta ini ?
Dan itu semua adalah atas perintah-Nya...
Maka selayaknya kita bersyukur kepada-Nya.

Sehingga bila kita merusak alam dan lalai dan lupa kepada Penguasanya,
Allah akan menegur kita dengan tentara-Nya...
Agar kita kembali bersujud dan bertasbih kepada-Nya.

Korban Merapi
”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" (Sesungghnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali." Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al baqarah 2:155-157)

Dalam seluruh makna tersebut di atas itulah kita menghayati...
Alam semesta adalah tentara Allah yang beriman dan patuh kepada-Nya.
Karenanya kita harus bersahabat dengan mereka dalam ikatan iman.
Bukan sebaliknya malah membuat kerusakan, keonaran....
dan bangga menumpuk dosa di atasnya.
Dan... kita juga harus saling mengingatkan...
Karena 'fitnah' tersebut tidak hanya menimpa orang-orang yang selalu berbuat dosa saja,
Tetapi juga akan menimpa orang-orang yang beriman di sekelilingnya.

”Dan takutlah (peliharalah) dirimu daripada fitnah (bencana) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras hukuman-Nya.” (QS Al Anfal 8:25)

Sayyidina Ali bin Abi Thalib memberi nasehat:
“Tidaklah musibah itu turun, kecuali lantaran dosa. Dan tidaklah ia bisa diangkat kecuali dengan taubat”

Kita tidak sedang mengajari siapapun.
Apalagi menggurui para korban bencana yang mencabik-cabik negeri ini.
Kita sangat sadar, untuk tabah atas semua kepahitan ini saja tidak mudah.
Tetapi setelah segala duka nestapa ini...
Tidak adakah umpan balik yang lebih bertenaga ?
Setelah segala kehilangan yang menyakitkan ini...
Haruskah kita kehilangan spirit untuk menghayati rahasia alam dibalik semuanya ?

Kita harus menjadi seorang mukmin, dalam suka maupun duka.
Kita harus menjadi seorang mukmin, dalam karunia maupun bencana.
Allah yang Maha Suci lagi Maha Bijaksana tidak akan salah membedakan...
Mana diantara kita yang diadzab karena dosanya...
Dan mana yang sedang diuji untuk menaikkan derajat keimanannya.
Meski semuanya tercebur dalam satu kubangan bencana yang sama rasanya.
Kita memang harus tetap menjadi seorang mukmin, apappun yang terjadi.
Meskipun ini memang sulit...
Tetapi pilihan lain akan jauh lebih menyakitkann.

Wallahu a’lam bishowab.

Memakan Makanan setelah panasnya hilang

عن قرة بن عبد الرحمن عن ابن شهاب عن عروة بن الزبير عن أسماء بنت أبي بكر:
أنها كانت إذا ثردت غطته شيئا حتى يذهب فوره ثم تقول : إنى سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “إنه أعظم للبركة يعني الطعام الذي ذهب فوره ” .

Dari Asma binti Abu Bakr, sesunguhnya beliau jika beliau membuat roti tsarid wadahnya beliau ditutupi sampai panasnya hilang kemudian beliau mengatakan, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya makanan yang sudah tidak panas itu lebih besar berkahnya”. [HR Hakim no 7124. Hakim mengatakan, “Hadits sahih sesuai dengan kriteria Muslim”. Pernyataan beliau ini disetujui oleh adz Dzahabi. Hadits di atas dimasukkan oleh al Albani dalam Silsilah Shahihah jilid 1 bag 2 no hadits 392].

و قد صح عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه قال: ” لا يؤكل طعام حتى يذهب بخاره .
أخرجه البيهقي بإسناد صحيح كما بينته في ” الإرواء ” 2038

Dalam Silsilah Shahihah jilid 1 bag 2 hal 748, al Albani mengatakan, “Terdapat riwayat yang shahih dari Abu Hurairah, beliau mengatakan “Makanan itu belum boleh dinikmati sehingga asap panasnya hilang”. Diriwayatkan oleh al Baihaqi dengan sanad yang shahih sebagaimana kujelaskan dalam Irwa’ Ghalil no 2038”.

Tidakkah kita ingin makanan yang kita makan itu lebih berkah? Sudahkan kita mengamalkan hadits di atas?


http://artikelassunnah.blogspot.com/2011/01/memakan-makanan-setelah-panasnya-hilang.html

Berbuat baik kepada makhluq berpahala

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemui Ummu Mubasyir Al- Anshariyah di kebun kurma miliknya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Siapakah yang menanam pohon kurma ini? Apakah dia seorang muslim atau kafir?” Dia menjawab, “Seorang Muslim....” Maka beliau bersabda:

لَا يَغْرِسُ مُسْلِمٌ غَرْسًا وَلَا يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلَا دَابَّةٌ وَلَا شَيْءٌ إِلَّا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman apapun atau bertani dengan tumbuhan apapun, lalu tanaman tersebut dimakan oleh oleh manusia, atau binatang melata atau sesuatu yang lain, kecuali hal itu akan berniali sedekah untuknya.” (HR. Muslim no. 1552)

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim bercocok tanam dengan tanaman apapun kecuali setiap tanamannya yang dimakannya bernilai sedekah baginya. Apa saja yang dicuri orang darinya (tanamannya) menjadi sedekah baginya. Apa yang dimakan binatang liar (dari tanamannya) menjadi sedekah baginya. Apa yang dimakan burung darinya menjadi sedekah baginya. Dan tidaklah seseorang mengambil darinya melainkah itu juga akan menjadi sedekah baginya.” (HR. Muslim no. 1552)

Penjelasan ringkas:

Di antara rahmat Allah Ta’ala adalah Dia menjanjikan banyak pahala pada berbagai bentuk amalan kebaikan walaupun yang sifatnya rendah di mata kebanyakan manusia. Allah tidak menjadikan pahala sedekah hanya untuk orang-orang yang kaya, akan tetapi juga menyediakan jalan-jalan sedekah bagi mereka yang biasanya miskin, seperti para petani. Ini semua merupakan bukti nyata bahwa Islam merupakan rahmat bagi sekalian alam.

Lihatlah bagaimana setiap petani -dengan syarat jika dia seorang muslim- bisa mendapatkan pahala yang sangat banyak dari siapa saja yang makan dari hasil pertaniannya, baik itu manusia maupun binatang, baik itu atas seizinnya maupun diambil tanpa seizinnya (dicuri). Ini memperkuat sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu:

فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

“Berbuat baik kepada setiap makhluk hidup adalah berpahala.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Jika hasil tanamannya dimakan oleh orang lain melalui jalur jual beli, apakah petani tersebut tetap mendapatkan pahala?
Wallahu a’lam, lahiriah haditsnya bermakna umum. Dia mendapatkan pahala dari setiap makhluk yang memakan hasil pertaniannya baik dia berikan secara gratis maupun dia jual kepada orang lain.

Sumber: http://al-atsariyyah.com/enaknya-jadi-petani.html

Orang-orang yang di Do'akan Malaikat

Sahabat Hikmah...
Malaikat adalah makhluk Allah yang mulia, Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman tentang malaikat:
"Sebenarnya (malaikat - malaikat itu) adalah hamba - hamba yang DIMULIAKAN, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah - perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan SYAFA'AT melainkan kepada orang - orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati - hati karena takut kepada-Nya" (QS Al Anbiyaa' 26-28)

Malaikat hanya akan mendoakan hamba Allah yang diridloi-Nya....
Siapakah hamba Allah yang didoakan oleh para Malaikat ?
Tentunya Anda juga mau didoakan oleh Malaikat bukan ?
Inilah hamba-hamba Allah yang didoakan oleh para Malaikat:

1. Orang yang duduk menunggu shalat.
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WA SALAM bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'" (Shahih Muslim no. 469)

2. Orang - orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat.
Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., bahwa Rasulullah SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WA SALAM bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

3. Orang - orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf).
Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WA SALAM bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

4. Orang yang mengucapkan amiin bersamaan dengan Para malaikat dalam sholat.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WA SALAM bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu" (Shahih Bukhari no. 782)

5. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WA SALAM bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'" (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

6. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WA SALAM bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

7. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., bahwasannya Rasulullah SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WA SALAM bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Shahih Muslim no. 2733)

8. Orang - orang yang berinfak.
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WA SALAM bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

9. Orang yang makan sahur.
Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WA SALAM bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang makan sahur" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

10. Orang yang menjenguk orang sakit.
Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WA SALAM bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih")

11. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WA SALAM bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)


12. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WA SALAM bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)
(Disarikan dari Buku Orang - orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005)

Minggu, 10 Juli 2011

Shalat 2 Rakaat, Iftrasy atau Tawarruk?

Tanya:
Assalamu ‘alaikum wwb.
Ustadz ‘afwan ana mau tanya dalil yang menerangkan shlat yang dua roka’at dengan duduk iftirosy ?

Uwais bin ‘Amir Al-Qoroni tabiin terbaik

Uwais bin ‘Amir Al-Qoroni adalah tabiin terbaik sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim[1] dari Umar bin Al-Khotthob ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِيْنَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ وَلَهُ وَالِدَةٌ

Bahaya Bepergian Ke Negara Kafir

Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah memuliakan kita dengan Islam. Dan yang memerintahkan kita semua untuk komitmen dengan Islam hingga kita sampai ke Darussalam ( negeri keselamatan di akherat ). Dan saya bersaksi bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya.

MENGAPA TAUHID DIBAGI TIGA

________________________________________

Penulis: Asy-Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad

Segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam, semoga kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa, shalawat serta salam semoga tercurah kepada imamnya para rasul, pilihan Rabb Semesta Alam, nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kepada seluruh keluarga dan para sahabatnya.